السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

FGD Bedah Kondisi Sosial Masyarakat Melayu, STAIN SAR Kepri Dorong Riset Berdampak dan Transformasi Pembangunan Berbasis Kemaritiman

  • 23 Juni 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 72
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan masyarakat berbasis kearifan lokal terus dilakukan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau. Melalui Unit Studi Melayu, STAIN SAR Kepri menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kondisi Sosial Masyarakat Melayu di Kepulauan Riau” di Ruang Labor Khazanah Melayu STAIN SAR Kepri pada Selasa (23/6/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk membedah dinamika sosial masyarakat Melayu sekaligus merumuskan arah strategis penguatan riset, pengabdian, dan pembangunan masyarakat yang berpijak pada karakter kemaritiman Kepulauan Riau.

FGD dibuka secara resmi oleh Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., serta menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, yakni Juwandi, M.H. dari IAIN Bengkalis dan Suyito, Ph.D. dari STISIPOL Tanjungpinang. Kegiatan turut dihadiri Wakil Ketua II STAIN SAR Kepri Dr. Almahfuz, M.Si., para ketua program studi, dosen, serta perwakilan mahasiswa dari seluruh program studi.

Dalam sambutannya, Ketua STAIN SAR Kepri menegaskan pentingnya menjadikan kajian sosial masyarakat Melayu tidak berhenti pada diskusi konseptual, tetapi diarahkan menjadi pijakan dalam merancang program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Menurutnya, perguruan tinggi perlu memperkuat kontribusi melalui pemetaan wilayah binaan dan pengembangan pilot project berbasis kebutuhan riil masyarakat, terutama di kawasan pesisir dan wilayah sekitar kampus.


“Kampus tidak cukup hanya menghasilkan kajian dan literasi. Perguruan tinggi perlu menghadirkan dampak nyata melalui riset, pengabdian, dan kolaborasi yang mampu memperkuat pembangunan masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya memperluas jejaring kelembagaan dan membangun kolaborasi lintas sektor agar kampus mampu menangkap peluang pengembangan daerah di tengah perubahan pola kebijakan pembangunan yang semakin terpusat.

Sementara itu, Plt. Kepala Unit Studi Melayu STAIN SAR Kepri, Sella Kurnia Sari, M.Sc., menyampaikan bahwa penyelenggaraan FGD ini merupakan bagian dari ikhtiar kampus dalam memperkuat posisi akademik STAIN SAR Kepri sebagai pusat kajian kemelayuan yang responsif terhadap dinamika sosial masyarakat.

Menurutnya, forum ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pemetaan persoalan, tetapi juga melahirkan rekomendasi dan gagasan yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan penelitian, pengabdian, serta pengembangan kebijakan berbasis kebutuhan masyarakat Melayu di Kepulauan Riau.

Pada sesi pemaparan materi, Suyito, Ph.D. mengangkat tema Pembangunan Strategis Kepulauan Riau Maju 2045: Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Melayu Pesisir. Ia menjelaskan bahwa Kepulauan Riau memiliki karakter geografis yang unik dengan sekitar 96 persen wilayah berupa perairan dan lebih dari 2.400 pulau yang membentuk karakter masyarakat maritim.


Menurutnya, masyarakat Melayu Kepulauan Riau tumbuh dan berkembang dalam tradisi tamdun maritim, yakni cara pandang yang menempatkan laut bukan sekadar ruang geografis, melainkan sebagai penghubung aktivitas sosial, penggerak ekonomi, sekaligus pembentuk identitas budaya masyarakat. Namun, di tengah besarnya potensi tersebut, Kepulauan Riau masih menghadapi sejumlah tantangan strategis, di antaranya ketimpangan pembangunan antara kawasan perkotaan dan wilayah hinterland, keterbatasan akses terhadap infrastruktur dasar, serta tekanan ekonomi yang masih dirasakan oleh masyarakat pesisir.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa arah pembangunan Kepulauan Riau ke depan perlu dirancang secara bertahap dan berkelanjutan melalui penguatan konektivitas wilayah dan layanan publik, pengembangan hilirisasi sektor maritim dan perikanan, hingga transformasi menuju pusat rantai pasok maritim modern serta destinasi ekonomi global yang kompetitif dan berkelanjutan.

“Pembangunan Kepri ke depan perlu diarahkan melalui tiga tahapan strategis, mulai dari penguatan konektivitas dasar dan layanan publik, hilirisasi sektor maritim dan perikanan, hingga transformasi menuju pusat rantai pasok maritim modern dan destinasi ekonomi global yang berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu, narasumber Juwandi, M.H. membahas tema Kondisi Masyarakat Melayu di Kepulauan Riau: Menelusuri Identitas di Tengah Arus Perubahan. Dalam paparannya, ia menyoroti bahwa masyarakat Melayu memiliki akar historis yang kuat sebagai peradaban maritim, namun saat ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung cepat.


Ia menjelaskan bahwa modernisasi membawa konsekuensi pada perubahan orientasi ekonomi, transformasi budaya, hingga munculnya risiko marginalisasi masyarakat lokal dalam sektor-sektor strategis. Selain itu, tantangan lain yang mengemuka adalah kecenderungan praktik budaya yang lebih menonjolkan aspek simbolik dibanding penguatan nilai filosofis yang menjadi ruh kebudayaan Melayu.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa masyarakat Melayu masih memiliki fondasi yang kuat melalui prinsip “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” sebagai landasan menjaga identitas dan ketahanan budaya di tengah arus globalisasi.

Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif peserta yang menyoroti berbagai isu, mulai dari pembangunan pesisir, ketahanan budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat Melayu, hingga peluang integrasi hasil riset kampus ke dalam program pengabdian dan pengembangan wilayah.

Melalui penyelenggaraan FGD ini, STAIN SAR Kepri berharap lahir gagasan-gagasan strategis yang dapat menjadi rujukan penguatan peran perguruan tinggi dalam pengembangan masyarakat Melayu Kepulauan Riau secara berkelanjutan. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem riset dan pengabdian yang lebih kontekstual, kolaboratif, serta berdampak bagi pembangunan daerah. (LF)