السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan masyarakat berbasis kearifan lokal terus dilakukan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau. Melalui Unit Studi Melayu, STAIN SAR Kepri menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kondisi Sosial Masyarakat Melayu di Kepulauan Riau” di Ruang Labor Khazanah Melayu STAIN SAR Kepri pada Selasa (23/6/2026).
Kegiatan
ini menjadi ruang akademik untuk membedah dinamika sosial masyarakat Melayu
sekaligus merumuskan arah strategis penguatan riset, pengabdian, dan
pembangunan masyarakat yang berpijak pada karakter kemaritiman Kepulauan Riau.
FGD
dibuka secara resmi oleh Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag.,
serta menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, yakni Juwandi, M.H. dari
IAIN Bengkalis dan Suyito, Ph.D. dari STISIPOL Tanjungpinang. Kegiatan turut
dihadiri Wakil Ketua II STAIN SAR Kepri Dr. Almahfuz, M.Si., para ketua program
studi, dosen, serta perwakilan mahasiswa dari seluruh program studi.
Dalam
sambutannya, Ketua STAIN SAR Kepri menegaskan pentingnya menjadikan kajian
sosial masyarakat Melayu tidak berhenti pada diskusi konseptual, tetapi
diarahkan menjadi pijakan dalam merancang program yang berdampak langsung bagi
masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu memperkuat kontribusi melalui pemetaan wilayah binaan dan pengembangan pilot project berbasis kebutuhan riil masyarakat, terutama di kawasan pesisir dan wilayah sekitar kampus.


“Kampus
tidak cukup hanya menghasilkan kajian dan literasi. Perguruan tinggi perlu
menghadirkan dampak nyata melalui riset, pengabdian, dan kolaborasi yang mampu
memperkuat pembangunan masyarakat,” tegasnya.
Ia
juga menekankan pentingnya memperluas jejaring kelembagaan dan membangun
kolaborasi lintas sektor agar kampus mampu menangkap peluang pengembangan
daerah di tengah perubahan pola kebijakan pembangunan yang semakin terpusat.
Sementara
itu, Plt. Kepala Unit Studi Melayu STAIN SAR Kepri, Sella Kurnia Sari, M.Sc., menyampaikan
bahwa penyelenggaraan FGD ini merupakan bagian dari ikhtiar kampus dalam
memperkuat posisi akademik STAIN SAR Kepri sebagai pusat kajian kemelayuan yang
responsif terhadap dinamika sosial masyarakat.
Menurutnya,
forum ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pemetaan persoalan, tetapi juga
melahirkan rekomendasi dan gagasan yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan
penelitian, pengabdian, serta pengembangan kebijakan berbasis kebutuhan
masyarakat Melayu di Kepulauan Riau.
Pada sesi pemaparan materi, Suyito, Ph.D. mengangkat tema Pembangunan Strategis Kepulauan Riau Maju 2045: Analisis Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Melayu Pesisir. Ia menjelaskan bahwa Kepulauan Riau memiliki karakter geografis yang unik dengan sekitar 96 persen wilayah berupa perairan dan lebih dari 2.400 pulau yang membentuk karakter masyarakat maritim.


Menurutnya,
masyarakat Melayu Kepulauan Riau tumbuh dan berkembang dalam tradisi tamdun
maritim, yakni cara pandang yang menempatkan laut bukan sekadar ruang
geografis, melainkan sebagai penghubung aktivitas sosial, penggerak ekonomi,
sekaligus pembentuk identitas budaya masyarakat. Namun, di tengah besarnya
potensi tersebut, Kepulauan Riau masih menghadapi sejumlah tantangan strategis,
di antaranya ketimpangan pembangunan antara kawasan perkotaan dan wilayah
hinterland, keterbatasan akses terhadap infrastruktur dasar, serta tekanan
ekonomi yang masih dirasakan oleh masyarakat pesisir.
Lebih
lanjut, ia menegaskan bahwa arah pembangunan Kepulauan Riau ke depan perlu
dirancang secara bertahap dan berkelanjutan melalui penguatan konektivitas
wilayah dan layanan publik, pengembangan hilirisasi sektor maritim dan
perikanan, hingga transformasi menuju pusat rantai pasok maritim modern serta
destinasi ekonomi global yang kompetitif dan berkelanjutan.
“Pembangunan
Kepri ke depan perlu diarahkan melalui tiga tahapan strategis, mulai dari
penguatan konektivitas dasar dan layanan publik, hilirisasi sektor maritim dan
perikanan, hingga transformasi menuju pusat rantai pasok maritim modern dan
destinasi ekonomi global yang berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, narasumber Juwandi, M.H. membahas tema Kondisi Masyarakat Melayu di Kepulauan Riau: Menelusuri Identitas di Tengah Arus Perubahan. Dalam paparannya, ia menyoroti bahwa masyarakat Melayu memiliki akar historis yang kuat sebagai peradaban maritim, namun saat ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan sosial dan ekonomi yang berlangsung cepat.


Ia
menjelaskan bahwa modernisasi membawa konsekuensi pada perubahan orientasi
ekonomi, transformasi budaya, hingga munculnya risiko marginalisasi masyarakat
lokal dalam sektor-sektor strategis. Selain itu, tantangan lain yang mengemuka
adalah kecenderungan praktik budaya yang lebih menonjolkan aspek simbolik
dibanding penguatan nilai filosofis yang menjadi ruh kebudayaan Melayu.
Meski
demikian, ia menegaskan bahwa masyarakat Melayu masih memiliki fondasi yang
kuat melalui prinsip “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” sebagai
landasan menjaga identitas dan ketahanan budaya di tengah arus globalisasi.
Diskusi
berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif peserta yang menyoroti berbagai
isu, mulai dari pembangunan pesisir, ketahanan budaya, pemberdayaan ekonomi
masyarakat Melayu, hingga peluang integrasi hasil riset kampus ke dalam program
pengabdian dan pengembangan wilayah.
Melalui
penyelenggaraan FGD ini, STAIN SAR Kepri berharap lahir gagasan-gagasan
strategis yang dapat menjadi rujukan penguatan peran perguruan tinggi dalam
pengembangan masyarakat Melayu Kepulauan Riau secara berkelanjutan. Kegiatan
ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem riset dan
pengabdian yang lebih kontekstual, kolaboratif, serta berdampak bagi
pembangunan daerah. (LF)
Bangun Institusi yang Kuat, STAIN SAR Kepri Dorong Sinergi dan Produktivitas ASN
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN