السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jejak Peradaban Melayu di Pulau Penyengat, Kunjungan Edukatif HMPS IAT STAIN SAR Kepri Perkuat Literasi Sejarah dan Keislaman

  • 25 April 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 62
Kegiatan Mahasiswa

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau melaksanakan kegiatan study tour edukatif ke Pulau Penyengat pada Sabtu (25/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan literasi sejarah, budaya, dan keislaman berbasis pengalaman langsung di lapangan.

Kegiatan tersebut menghadirkan Raja Muhammad Syafarullah, S.IP., M.Tr.Par., yang memberikan pemaparan komprehensif terkait peran strategis Pulau Penyengat sebagai salah satu pusat peradaban Melayu dalam sejarah Kesultanan Riau-Lingga. Ia menjelaskan bahwa pulau tersebut tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga berkembang sebagai sentra kegiatan keagamaan dan intelektual pada masanya.

Dalam penyampaiannya, narasumber menegaskan bahwa kehidupan masyarakat Pulau Penyengat sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya Melayu yang terintegrasi dengan ajaran Islam. Hal ini tercermin dalam praktik adat istiadat, penggunaan bahasa, serta keberadaan berbagai situs sejarah yang hingga kini masih terjaga dengan baik sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi.


Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga dan melestarikan situs-situs bersejarah sebagai bentuk tanggung jawab terhadap identitas budaya dan sejarah bangsa. Upaya pelestarian tersebut dinilai tidak hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap masa lalu, tetapi juga sebagai fondasi dalam membangun peradaban masa depan yang berakar pada nilai-nilai lokal.

Salah satu perwakilan peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih bermakna dibandingkan pembelajaran teoritis di kelas.

“Kegiatan ini sangat berkesan karena kami dapat melihat langsung situs bersejarah dan memahami kehidupan masyarakat Melayu secara nyata, bukan hanya melalui teori,” ungkapnya.


Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman akademik, tetapi juga mampu menginternalisasi nilai-nilai sejarah dan budaya Melayu dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan study tour ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan inovasi yang lebih variatif, sehingga memberikan dampak edukatif yang lebih luas bagi mahasiswa.

Sebagai tindak lanjut, panitia juga merekomendasikan dokumentasi kegiatan dalam bentuk visual sebagai bagian dari arsip akademik dan media pembelajaran. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat memperkuat diseminasi pengetahuan serta menjadi referensi bagi kegiatan serupa di masa mendatang. (LF/Nur)