السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Upaya menghidupkan kembali jejak sejarah dan nilai perjuangan tokoh Melayu dihadirkan secara akademik melalui penyampaian mukadimah sejarah Sultan Abdurrahman Muazzam Syah II dalam rangkaian Kenduri Budaya STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Sabtu (25/4/2026) di Laboratorium Khazanah Melayu.
Mukadimah
tersebut disampaikan oleh Rendra Setyadiharja, S.Sos., M.I.P. mewakili tim
penulis, sebagai bagian dari penguatan narasi historis atas tokoh yang menjadi
nama besar institusi. Penyampaian ini menjadi salah satu rangkaian penting
dalam kunjungan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama RI, Prof. Dr.
Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A ke STAIN SAR Kepri.
Dalam paparannya, Rendra Setyadiharja, S.Sos., M.I.P. menegaskan bahwa penamaan STAIN Sultan Abdurrahman Muazzam Syah tidak sekadar simbolik, melainkan memiliki landasan historis yang kuat dan sarat makna perjuangan. Ia menjelaskan bahwa Sultan Abdurrahman Muazzam Syah II merupakan sosok pemimpin Melayu yang tampil dalam situasi politik yang kompleks pasca Traktat London 1824, yang memecah wilayah Kesultanan Riau-Lingga dari Johor dan Pahang.

Lebih
lanjut, ia menguraikan bahwa dalam kondisi kesultanan yang berada di bawah
tekanan kolonial, Sultan Abdurrahman Muazzam Syah II menunjukkan bentuk
perlawanan yang berbeda dibandingkan tokoh-tokoh sebelumnya. Jika perlawanan
fisik menjadi ciri perjuangan pada masa Raja Haji Fisabilillah, maka Sultan
Abdurrahman mengedepankan strategi perlawanan politik non-kekerasan melalui
pemikiran dan kebijakan.
“Sultan
Abdurrahman Muazzam Syah II menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu harus
bersifat fisik, tetapi dapat dilakukan melalui strategi politik dan pemikiran
untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat bangsa,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti puncak perlawanan Sultan ketika menolak menandatangani kontrak politik yang diajukan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1910. Penolakan tersebut berujung pada pemakzulan Sultan pada tahun 1911, yang kemudian diikuti dengan pembubaran Kesultanan Riau-Lingga secara de jure pada tahun 1913. Namun demikian, keputusan tersebut justru mencerminkan komitmen kuat Sultan dalam mempertahankan kehormatan dan kedaulatan negeri.

Lebih
jauh, mukadimah ini menekankan nilai-nilai historis yang relevan untuk
diinternalisasikan dalam dunia pendidikan, yaitu semangat menjaga martabat,
mempertahankan identitas, serta keberanian mengambil sikap dalam menghadapi
tekanan. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun
karakter sivitas akademika STAIN SAR Kepri.
Dalam
konteks kekinian, Rendra Setyadiharja juga mengajak seluruh civitas academica
untuk tidak hanya mengenang tokoh sejarah sebagai simbol, tetapi menjadikannya
sebagai inspirasi dalam membangun peradaban melalui pendidikan. Ia menegaskan
bahwa kehadiran Laboratorium Khazanah Melayu menjadi langkah strategis dalam
mengaktualisasikan semangat tersebut melalui kajian akademik dan riset
berkelanjutan.
Penyampaian
mukadimah ini memperkuat posisi STAIN SAR Kepri sebagai institusi pendidikan
tinggi yang tidak hanya mengembangkan keilmuan, tetapi juga berperan aktif
dalam merawat memori kolektif dan identitas budaya Melayu. Dengan demikian,
nilai-nilai perjuangan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah II diharapkan terus
hidup dan terinternalisasi dalam praksis pendidikan serta kontribusi nyata bagi
pembangunan bangsa. (LF)
Start from PMB to PBAK! DEMA STAIN Kepri Bahas Proker Bersama Wakil Ketua III
Perpanjangan Pendaftaran Ulang SPAN