السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kurikulum Berbasis Cinta, Dosen PIAUD STAIN SAR Kepri Bekali Guru RA Tanjungpinang Hadirkan Pembelajaran yang Memuliakan Anak

  • 04 September 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 150
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Pendidikan anak usia dini tidak hanya membutuhkan metode pembelajaran yang inovatif, tetapi juga pendekatan yang mampu menghadirkan rasa aman, penghargaan, dan kasih sayang bagi setiap anak. Semangat tersebut menjadi pijakan dalam Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bagi guru Raudhatul Athfal (RA) se-Kota Tanjungpinang yang digelar di Auditorium Razali Jaya, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan yang diikuti seluruh guru RA se-Kota Tanjungpinang tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) STAIN SAR Kepri melalui pembiayaan Litapdimas Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2026.

Ketua Program Studi PIAUD STAIN SAR Kepri, Nadya Nela Rosa, M.Psi., menyampaikan bahwa penguatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran anak usia dini yang berkualitas. Menurutnya, guru memiliki peran strategis dalam menerjemahkan nilai-nilai cinta menjadi pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak.

“Kami berharap workshop ini tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran di RA. Ketika guru mampu menghadirkan pembelajaran yang penuh cinta, anak akan tumbuh dalam suasana yang aman, menyenangkan, dan mendukung perkembangan mereka secara optimal,” ujarnya.


Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua STAIN SAR Kepri, Prof. Dr. Azni, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan di masyarakat, termasuk pendidikan anak usia dini.

“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi harus mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, STAIN SAR Kepri berupaya berbagi pengetahuan dan memperkuat kapasitas para pendidik agar pendidikan anak usia dini semakin berkualitas,” ungkapnya.

Workshop menghadirkan Dr. Issaura Dwi Selvi, M.Pd., sebagai narasumber. Ia merupakan akademisi dan peneliti bidang Pendidikan Anak Usia Dini sekaligus dosen STAIN SAR Kepri yang memiliki pengalaman dalam penelitian, publikasi ilmiah, pengembangan media pembelajaran, serta peningkatan kapasitas pendidik PAUD.

Dalam pemaparannya, Dr. Issaura menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan kasih sayang sebagai fondasi dalam proses pendidikan dan pengasuhan. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang memuliakan anak, sehingga anak merasa aman, dihargai, didengar, dan memperoleh ruang untuk berkembang sesuai potensi serta tahap perkembangannya.

“Kurikulum Berbasis Cinta mengajak kita melihat anak sebagai pribadi yang harus dimuliakan. Nilai cinta perlu hadir dalam cara guru berbicara, mendampingi, memberikan stimulasi, hingga melakukan asesmen, sehingga pembelajaran benar-benar menjadi pengalaman yang bermakna bagi anak,” jelasnya.


Dalam materi yang disampaikan, implementasi KBC diperkuat melalui konsep Panca Cinta, yakni cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, cinta diri dan sesama, cinta ilmu, cinta lingkungan, serta cinta tanah air. Kelima nilai tersebut dapat diterjemahkan ke dalam aktivitas pembelajaran yang dekat dengan kehidupan anak sehingga nilai agama, sosial, intelektual, kepedulian lingkungan, dan kebangsaan dapat tumbuh secara alami.

Dr. Issaura juga menekankan bahwa karakteristik anak usia dini perlu menjadi pertimbangan utama dalam merancang pembelajaran. Anak belajar melalui bermain, pengalaman konkret, eksplorasi, interaksi, dan rasa ingin tahu. Karena itu, nilai-nilai cinta tidak cukup disampaikan sebagai materi, tetapi perlu diwujudkan melalui pengalaman belajar yang nyata dan menyenangkan.

Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi salah satu strategi yang dapat memperkuat implementasi KBC. Pembelajaran dapat dirancang secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui berbagai aktivitas konkret, seperti practical life, sensorial play, proyek berbasis STEAM, eksplorasi bahan alam (loose parts), hingga pemanfaatan media digital interaktif.

Melalui pendekatan tersebut, guru dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi, bertanya, mencoba, memecahkan masalah, dan merefleksikan pengalaman belajarnya. Proses tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan kognitif, sosial-emosional, kreativitas, komunikasi, serta karakter anak secara terpadu.


Aspek asesmen turut menjadi bagian penting dalam implementasi KBC. Penilaian perkembangan anak diarahkan agar tidak semata-mata berorientasi pada hasil tes, tetapi lebih menekankan pengamatan terhadap proses belajar dan perkembangan anak melalui asesmen autentik.

Guru dapat memanfaatkan catatan anekdot, portofolio, dokumentasi foto, serta ceklis Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKTP) untuk memperoleh gambaran perkembangan anak secara lebih utuh. Dengan demikian, asesmen dapat menjadi instrumen untuk memahami kebutuhan anak sekaligus menentukan stimulasi pembelajaran berikutnya.

Workshop berlangsung interaktif dengan mempertemukan perspektif akademik dan pengalaman praktis para guru RA. Peserta memperoleh ruang untuk berdiskusi dan mengaitkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta dengan realitas pembelajaran yang mereka hadapi di satuan pendidikan masing-masing.

Bagi Prodi PIAUD STAIN SAR Kepri, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kontribusi perguruan tinggi yang berdampak langsung bagi peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini. Penguatan kapasitas guru diharapkan berlanjut pada perubahan praktik pembelajaran di kelas yang semakin ramah anak, bermakna, dan berorientasi pada tumbuh kembang anak secara holistik. (LF)