السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tembus Scopus Q1! Kolaborasi Riset Dosen STAIN SAR Kepri Ungkap Kesenjangan Antarbudaya dalam Buku Ajar Bahasa Arab

  • 27 Juli 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 141
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Prestasi akademik kembali ditorehkan civitas academica Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Dr. Aidillah Suja, M.Pd.I., berhasil mempublikasikan hasil riset kolaboratif pada jurnal internasional bereputasi Scopus Quartile 1 (Q1). Capaian tersebut menjadi bukti meningkatnya kualitas penelitian dosen sekaligus memperkuat posisi STAIN SAR Kepri dalam jejaring riset akademik bertaraf internasional.

Artikel ilmiah berjudul "Cultural Representation in Arabic Textbooks: Unveiling Intercultural Gaps and Pedagogical Implications in Indonesian Islamic Higher Education" ditulis bersama Dr. Sutaman dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Syarifaturrahmatullah dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Moh. Buny Andaru Bahy, Shobirin, dan Marajo. Kolaborasi lintas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tersebut menunjukkan semakin kuatnya sinergi penelitian antarakademisi dalam menghasilkan karya ilmiah yang berkontribusi bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya representasi budaya dalam buku ajar bahasa Arab sebagai salah satu faktor utama dalam membangun kompetensi antarbudaya (intercultural competence) mahasiswa. Di tengah tuntutan globalisasi, pembelajaran bahasa tidak lagi hanya berorientasi pada penguasaan aspek linguistik, tetapi juga dituntut mampu membekali peserta didik dengan kemampuan memahami keberagaman budaya sebagai bekal berinteraksi di tingkat internasional.

Menggunakan pendekatan Krippendorff’s content analysis, tim peneliti mengkaji enam buku ajar bahasa Arab yang digunakan di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. Analisis dilakukan terhadap unsur verbal dan visual dengan mengidentifikasi empat elemen budaya, yakni tokoh (people), produk budaya (products), praktik budaya (practices), dan perspektif budaya (perspectives). Selain itu, penelitian juga memetakan representasi budaya berdasarkan budaya asal (source culture), budaya sasaran (target culture), dan budaya internasional (international target culture).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi budaya dalam buku ajar bahasa Arab masih belum proporsional. Aspek produk budaya mendominasi materi pembelajaran, sedangkan praktik dan perspektif budaya masih minim dihadirkan. Di sisi lain, buku ajar lebih banyak menampilkan budaya asal dan budaya sasaran dibandingkan budaya internasional. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pembelajaran bahasa Arab di perguruan tinggi masih cenderung berorientasi pada penguasaan kemampuan linguistik dibandingkan pengembangan kompetensi antarbudaya mahasiswa.

Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merekomendasikan pengembangan buku ajar bahasa Arab melalui integrasi materi autentik lintas budaya, penerapan tugas reflektif dan komparatif, serta penguatan peran dosen sebagai mediator budaya dalam proses pembelajaran. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya mahir berbahasa Arab, tetapi juga memiliki sensitivitas terhadap keberagaman budaya global.


Menanggapi capaian tersebut, Dr. Aidillah Suja, M.Pd.I., menegaskan bahwa pembelajaran bahasa pada era global memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mengintegrasikan dimensi budaya ke dalam proses pembelajaran.

"Bahasa merupakan cerminan budaya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Arab tidak cukup hanya berfokus pada aspek kebahasaan, tetapi juga harus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami nilai, tradisi, dan cara pandang masyarakat yang melatarbelakangi penggunaan bahasa tersebut. Melalui penelitian ini, kami berharap pengembangan buku ajar bahasa Arab di Indonesia semakin memperhatikan dimensi budaya sehingga mampu memperkuat kompetensi antarbudaya mahasiswa dalam menghadapi masyarakat global," ungkapnya Senin, (27/7/2026).

Sementara itu, Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan dosen menembus publikasi pada jurnal bereputasi Scopus Q1 merupakan indikator nyata meningkatnya budaya riset di lingkungan kampus.

"Publikasi pada jurnal internasional bereputasi Scopus Q1 bukan sekadar capaian individual, tetapi menjadi kebanggaan institusi sekaligus bukti bahwa dosen STAIN SAR Kepri mampu berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat global. Kami akan terus mendorong budaya riset kolaboratif, memperluas jejaring akademik internasional, serta meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah sebagai bagian dari transformasi kampus menuju perguruan tinggi Islam yang unggul dan berdaya saing internasional," tegasnya.

Keberhasilan publikasi pada jurnal bereputasi Scopus Q1 menjadi salah satu indikator meningkatnya kualitas riset dosen STAIN SAR Kepri. Pencapaian tersebut sekaligus mencerminkan komitmen institusi dalam membangun budaya penelitian yang unggul, memperluas kolaborasi akademik, serta meningkatkan kontribusi keilmuan di tingkat nasional maupun internasional.

Artikel ilmiah tersebut dapat diakses melalui tautan: https://doi.org/10.1080/2005615X.2026.2705691

Prestasi yang diraih Dr. Aidillah Suja diharapkan menjadi inspirasi bagi civitas academica STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau untuk terus menghasilkan karya ilmiah berkualitas yang mampu menjawab tantangan pendidikan kontemporer. Sejalan dengan komitmen perguruan tinggi sebagai kampus Islam yang unggul dan berdaya saing global, capaian ini menegaskan bahwa riset yang lahir dari kampus Melayu tidak hanya memenuhi standar publikasi internasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi pendidikan di tingkat dunia. (LF)