السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pantun Jadi Media Edukasi Publik, Labor Pantun dan Khazanah Kemelayuan STAIN SAR Kepri Semarakkan Kick Off Sensus Ekonomi 2026

  • 17 Juni 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 87
Berita Utama

Tanjungpinang, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Pelestarian budaya Melayu yang dipadukan dengan edukasi publik ditampilkan secara menarik melalui penampilan berbalas pantun oleh Labor Pantun dan Khazanah Kemelayuan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau pada kegiatan Kick Off Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) Provinsi Kepulauan Riau. Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian yang menyita perhatian peserta karena menghadirkan pesan pembangunan ekonomi melalui pendekatan budaya yang komunikatif dan dekat dengan masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, Amalia Adininggar Widyasanti, Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, Kepala BPS Provinsi Kepulauan Riau, Toto Haryanto Silitonga, serta para Bupati dan Wali Kota se-Kepulauan Riau, unsur Forkopimda, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai elemen masyarakat.

Penampilan berbalas pantun dibawakan oleh Ramli Muasmara, M.Pd.I., Muhammad Khairil Ramadhan, S.Pd., dan Aditya Syahputra, S.H. Melalui lantunan pantun yang sarat nilai budaya dan pesan edukatif, para pemantun mengajak masyarakat memahami pentingnya Sensus Ekonomi 2026 sebagai instrumen strategis dalam mendukung pembangunan daerah dan nasional.

Dalam rangkaian pantun yang disampaikan, ditegaskan bahwa Sensus Ekonomi 2026 merupakan agenda nasional yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan aktivitas usaha di Indonesia. Data yang dihasilkan akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan, penguatan investasi, perluasan kesempatan kerja, serta peningkatan daya saing ekonomi.

Selain menyampaikan pentingnya pelaksanaan sensus, penampilan tersebut juga menekankan bahwa data yang berkualitas menjadi fondasi utama pembangunan yang berkelanjutan. Data yang akurat, mutakhir, dan terpercaya memungkinkan pemerintah menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan sektor usaha.

Melalui pantun yang dibawakan, masyarakat dan pelaku usaha juga diajak berpartisipasi aktif dalam menyukseskan SE2026 dengan memberikan informasi yang benar, lengkap, dan jujur kepada petugas sensus. Informasi tersebut akan menjadi dasar pemetaan karakteristik dan dinamika sektor ekonomi di berbagai wilayah.

Pesan edukatif lainnya turut menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keamanan data yang diberikan. Kerahasiaan data responden dijamin sesuai ketentuan perundang-undangan dan hanya digunakan untuk kepentingan statistik dalam bentuk agregat tanpa membuka identitas individu maupun pelaku usaha.


Tidak hanya itu, para pemantun turut mengapresiasi dukungan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari asosiasi usaha, pelaku UMKM, dunia industri, hingga masyarakat luas yang menjadi bagian penting dalam mewujudkan data ekonomi yang berkualitas.

Kepala Labor Pantun dan Khazanah Kemelayuan STAIN SAR Kepri, Ramli Muasmara, M.Pd.I., menegaskan bahwa keterlibatan Labor Pantun dalam kegiatan ini merupakan bentuk aktualisasi budaya Melayu sebagai media komunikasi publik yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Pantun bukan hanya warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif dalam menyampaikan pesan pembangunan kepada masyarakat. Melalui pendekatan budaya, informasi yang disampaikan menjadi lebih dekat, mudah dipahami, dan memiliki daya ingat yang kuat,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara budaya, pendidikan, dan agenda pembangunan menjadi langkah penting untuk memperkuat partisipasi publik dalam mendukung program-program strategis nasional.

Melalui penampilan berbalas pantun yang sarat makna tersebut, Labor Pantun dan Khazanah Kemelayuan STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau kembali menunjukkan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai penggerak pelestarian budaya dan edukasi masyarakat menuju pembangunan ekonomi yang maju, inklusif, dan berdaya saing. (LF/RM)