السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dosen STAIN SAR Kepri Teguhkan Nilai Islam dan Budaya Melayu melalui Bedah Buku “Harmonisasi Gurindam Dua Belas"

  • 23 Oktober 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 712
Berita Utama

Batam, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Dalam upaya melestarikan nilai budaya dan kearifan lokal Melayu yang berakar pada ajaran Islam, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV Kepulauan Riau menyelenggarakan Seminar dan Bedah Buku “Harmonisasi Gurindam Dua Belas, Pepatah Petitih Minang, Al-Qur’an, dan Hadis” karya Dr. Satrio, M.A. (Datuak Nan Bakupiah), dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, pada Kamis, 23 Oktober 2025, di Hotel Santika Batam Center, Kota Batam.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Dr. Satrio, M.A. (Dosen STAIN SAR Kepri, penulis, dan pelestari Gurindam 12), Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag. (Ketua STAIN SAR Kepri), serta Dato’ Rida K. Liamsi (budayawan dan sejarawan Kepulauan Riau). Seminar dihadiri oleh sekitar 90 peserta yang terdiri atas kalangan akademisi, budayawan, mahasiswa, perwakilan lembaga adat Melayu (LAM), ulama, serta instansi pemerintah daerah.

Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. H. Muhammad Faisal, M.Ag. menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata sinergi antara lembaga pendidikan tinggi keagamaan dan lembaga kebudayaan dalam melestarikan karya intelektual Melayu yang sarat nilai Islam.

“Gurindam Dua Belas bukan hanya karya sastra, tetapi manifestasi filosofi hidup masyarakat Melayu yang sejalan dengan nilai-nilai Qur’ani,” ungkapnya.

Sementara itu, penulis buku Dr. Satrio, M.A. (Datuak Nan Bakupiah) menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan kajian integratif antara Gurindam 12 karya Raja Ali Haji, Pepatah-Petitih Minangkabau, serta nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis. Ia berharap agar kajian terhadap Gurindam 12 dapat terus digalakkan secara masif oleh lembaga pendidikan, kebudayaan, dan pemerintah daerah.

“Gurindam harus terus membumi dan menjadi rujukan moral di tanah Melayu,” tegasnya.


Acara berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Para narasumber menyoroti pentingnya Gurindam 12 sebagai media edukatif dalam menanamkan nilai-nilai etika, kepemimpinan, dan spiritualitas Islam dalam konteks budaya lokal.

Buku Harmonisasi Gurindam Dua Belas, Pepatah-Petitih Minang, Al-Qur’an dan Hadis sendiri mengupas 12 pasal ajaran moral Raja Ali Haji dengan padanan nilai-nilai Minangkabau dan Islam. Karya ini menjadi refleksi akademik yang menegaskan bahwa kearifan lokal Melayu-Minang sejatinya berakar kuat pada ajaran Islam. Buku ini juga mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh nasional dan daerah, termasuk Dr. Fadli Zon, M.Sc. (Menteri Kebudayaan RI), H. Ansar Ahmad, S.E., M.M. (Gubernur Kepri), dan H. Raja Al Hafiz, S.E. (Ketua LAM Kepri).

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir semangat baru dalam memperkuat Islamic cultural literacy di Kepulauan Riau dan menjadikan Gurindam 12 sebagai jembatan antara identitas budaya Melayu dan nilai-nilai universal Islam yang terus hidup dan berkembang dalam masyarakat modern. (LF/STR)