Bintan | STAIN SAR KEPRI - Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau melaksanakan Kuliah Umum, Selasa, 21-02-2020, tidak tanggung-tanggung, kuliah umum kali ini STAIN SAR Kepri tidak mengkhususkan untuk Civitas Akademika saja tetapi juga untuk masyarakat umum karena yang akan memberikan Kuliah Umum kali ini adalah Ulama kondang yakni Ust. Dr. H. Abdul Somad, Lc, M.A atau biasa dipanggil UAS.

Kuliah umum ini bertema “Membangun Peradaban Islam di Era 4.0” yang di taja di Auditorium Razali Jaya, hadir juga Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc, Dewan Penyantun STAIN SAR Kepri Dr. H. Hardi S Hood, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bintan, Drs. H. Erman Zaruddin, M.M.Pd dan segenap Civitas Akdemika STAIN SAR Kepri.

Ketua STAIN SAR Kepri, Dr. Muhammad Faisal, M. Ag dalam sambutannya mengatakan mengucapkan terima kasih banyak karena UAS telah bersedia hadir untuk memberikan pencerahan bagi segenap civitas Akademika STAIN SAR Kepri, saat ini STAIN SAR Kepri sedang menggalakkan 3T yakni Tahsin, Tahfidz dan Tilawah, “diharapkan dengan kuliah umum ini bisa memberikan wawasan yang luas bagi civitas akademika,”terangnya.

Ditambahkan ketua, saya berterima kasih kepada teman-teman panitia, baik Dosen, Staf, Mahasiswa dan Bank Syariah Mandiri (BSM) yang sudah mensukseskan kegiatan ini, “semoga kegiatan kita mendapat ridho Allah SWT,”pungkasnya.

UAS dalam kuliah umum nya mengatakan bahwa yang bisa membangun peradaban adalah orang yang menetap, kalau sering berpindah-pindah tidak mungkin bisa terjadi peradaban itu, “peradaban kita hebat dan generasi ini harus tahu kalau Indonesia ini hebat dan kita bangsa yang kaya dan besar,”terangnya.

Ditambahkan UAS, peradaban yang dibangun di era modern ini harus mengakar kebawah dan berpucuk di atas, ini sudah diterangkan didalam Al-Qur’an. Makanya pengetahuan Islam tidak terbatas di kelas saja.

UAS mengatakan ada empat unsur yang mampu memajukan peradaban Islam, Yakni An-Nidzom Assiyasiy, Al-mawarist Al-Iqtishodiyyah, Al-qiyam Al-Akhlaqiy, dan Ukhwah.

Pertama, An-Nidzom Assiyasiy (sistem politik). Dalam Islam, politik mampu melahirkan ketenangan dan perdamaian, salah satunya seperti yang telah dikenalkan oleh Al-mawardi dalam kitab Al-Akhkam Assulthoniyyah yang di antaranya berisikan bagaimana Islam dengan pemerintahan dan pemimpinnya dalam mengatur politik serta negara, suatu kebohongan yang besar jika Islam disebut tidak pernah mengenal politik. UAS juga sempat menyinggung bagaimana Pancasila menurutnya merupakan salah satu bentuk kerendahan hati ulama Indonesia semasa kemerdekaan Indonesia hingga saat ini, sebagai bentuk pernyataan sama, “kalimatun sawaun” seperti yang tertuang dalam setiap sila-silanya dan juga bentuk kecintaan Islam terhadap keutuhan NKRI.

Kedua, yaitu Al-Mawarist Al Iqtishodiyyah (ekonomi yang mapan). Ekonomi dalam peradaban Islam telah lama dijadikan sebagai bahan kajian, dan bahkan tidak ada satupun persoalan ekonomi yang terlewatkan dalam studi dan penelitian Islam, “permasalahan negara dalam membangun perekonomian yang maju terdapat pada pengelolaannya yang tidak tepat,”pungkas UAS.

Ketiga, Al-Qiyam Al-Akhlaqiy, peradaban yang baik harus dibangun melalui qiyam akhlak, yang saat ini terjadi di masyarakat khususnya umat Islam sedang mengalami krisis akhlak. Pendidikan moral dan akhlak tidak mampu disampaikan secara penuh dan baik dalam perilaku masyarakat khususnya anak muda.

Terakhir, yaitu Ukhwah atau Wihdah (persatuan). Peradaban Islam tidak mungkin bertahan lama jika ukhwah di antara umat Islam mengalami kegoyahan atau perpecahan, “umat islam harus bersatu supaya tidak bisa digoyahkan oleh pengaruh dari luar yang ingin merusak islam,”tutupnya.

Kuliah umum ini diakhiri dengan pemberian cinderamata yang langsung diserahkan oleh Ketua STAIN SAR Kepri kepada UAS. (nDr).

 

 

 

 

    LINK LAYANAN