السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dosen STAIN Kepri Bawa Kajian Arah Kiblat Masjid Kesultanan Riau-Lingga ke Panggung Internasional

  • 30 Juni 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 37
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu - Dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional melalui partisipasi dalam International Seminar on Islamic Astronomy in Southeast Asia yang mengangkat tema “Current Trends, Opportunities and Challenges” pada Rabu, 24 Juni 2026.

Pada seminar internasional tersebut, tim peneliti STAIN Kepri yang terdiri dari M. Arbisora Angkat selaku dosen sekaligus Kepala Laboratorium Ilmu Falak, Rizki Pradana Hidayatullah selaku Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga Islam, serta Ilhamuddin Aribbillah yang merupakan mahasiswa STAIN Kepri, mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Geospatial Analysis Of Qibla Direction Accuracy In Riau-Lingga Sultanate Mosques Based On Google Earth.”

Penelitian ini berfokus pada analisis arah kiblat Masjid Kesultanan Riau-Lingga menggunakan teknologi geospasial melalui aplikasi Google Earth. Kajian tersebut bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian arah kiblat masjid bersejarah tersebut dengan arah Ka'bah di Makkah berdasarkan data koordinat dan orientasi bangunan yang diperoleh secara digital.

Dalam penelitian tersebut, Google Earth digunakan sebagai instrumen analisis geospasial untuk memperoleh koordinat lokasi masjid sekaligus mengukur orientasi bangunan. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan azimut kiblat yang mengarah ke Ka'bah sehingga dapat diketahui tingkat kesesuaian arah kiblat masjid secara ilmiah dan terukur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan data historis yang secara spesifik menjelaskan siapa pengukur arah kiblat Masjid Kesultanan Riau-Lingga maupun metode dan instrumen yang digunakan pada saat pembangunannya. Namun demikian, berdasarkan usia masjid yang telah berdiri sekitar tiga abad lalu serta perkembangan ilmu falak pada masa tersebut, tim peneliti mengajukan hipotesis bahwa penentuan arah kiblat kemungkinan besar menggunakan metode Rashdul Kiblat, yakni metode pengukuran arah kiblat berdasarkan posisi Matahari ketika berada tepat di atas Ka'bah.

Merujuk pada teori tingkat akurasi arah kiblat yang dikemukakan oleh pakar ilmu falak Slamet Hambali, hasil analisis menunjukkan bahwa arah kiblat Masjid Kesultanan Riau-Lingga termasuk dalam kategori akurat. Temuan ini menjadi menarik karena masjid tersebut dibangun jauh sebelum hadirnya berbagai teknologi modern dalam bidang astronomi dan ilmu falak.

Tim peneliti juga melakukan observasi lapangan terhadap sejumlah masjid yang dibangun pada masa yang lebih baru. Dari hasil pengamatan tersebut ditemukan bahwa beberapa masjid modern justru memiliki ketidaksesuaian antara orientasi bangunan dan arah kiblat yang seharusnya.

Menurut tim peneliti, kondisi tersebut dapat terjadi karena pada tahap pembangunan awal tidak melibatkan ahli falak serta tidak menggunakan instrumen pengukuran yang memadai untuk menentukan arah kiblat secara presisi. Sebaliknya, masjid-masjid bersejarah seperti Masjid Kesultanan Riau-Lingga menunjukkan tingkat ketepatan arah kiblat yang sangat baik ketika dianalisis menggunakan teknologi Google Earth.

M. Arbisora Angkat menjelaskan bahwa penelitian ini menjadi bukti bahwa warisan keilmuan Islam di Nusantara memiliki tingkat ketelitian yang tinggi dalam penentuan arah kiblat. Selain itu, pemanfaatan teknologi geospasial modern dapat menjadi sarana verifikasi ilmiah terhadap bangunan-bangunan bersejarah yang telah menjadi bagian penting dari peradaban Islam di Kepulauan Riau.

Partisipasi dosen dan mahasiswa STAIN Kepri dalam seminar internasional ini sekaligus menjadi wujud komitmen kampus dalam mengembangkan penelitian di bidang ilmu falak, astronomi Islam, dan kajian keislaman berbasis teknologi. Melalui forum akademik internasional tersebut, hasil penelitian yang lahir dari lingkungan STAIN Kepri dapat berkontribusi dalam pengembangan keilmuan astronomi Islam di tingkat regional Asia Tenggara. (Gby)