السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mewujudkan Peradaban Hijau: Orasi Ilmiah Dr. Ramandha tentang Green Islamic Education pada Wisuda ke-10 dan Milad ke-15 STAIN SAR Kepri

  • 06 Desember 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 141
Berita Utama

Tanjungpinang, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau melaksanakan Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-10 yang dirangkaikan dengan Milad ke-15 pada Sabtu (6/12/2025) di CK Hotel and Convention Center Kota Tanjungpinang.

Pada prosesi yang mengukuhkan 246 lulusan dari 11 program studi tersebut, Sekretaris Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Dr. Ramandha Rudwi Hantoro, M.Pd.I., menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Green Islamic Education: Menata Ulang Praktik Pendidikan Menuju Peradaban Hijau.”

Dalam paparan orasinya, Dr. Ramandha menegaskan bahwa kondisi alam saat ini berada pada situasi yang tidak lagi “baik-baik saja”. Berbagai krisis ekologis, menurutnya, merupakan tanda bahwa manusia telah tergelincir dalam paradigma antroposentris, cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat dan menjadikan alam sebagai objek eksploitasi. Ia menegaskan bahwa kerusakan tersebut sejatinya telah diingatkan dalam Al-Qur’an, khususnya Q.S. Ar-Rūm ayat 41, bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat dari ulah tangan manusia.

Mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa manusia adalah pemakmur bumi, Dr. Ramandha menekankan bahwa amanah kekhalifahan tidak boleh disalahartikan sebagai legitimasi atas eksploitasi tanpa batas. Sebaliknya, amanah tersebut menuntut kemampuan menjaga keseimbangan alam dan mengelola bumi secara bijaksana. Menurutnya, krisis ekologis pada dasarnya bukan semata persoalan lingkungan, melainkan persoalan moral, spiritual, dan peradaban.

Dr. Ramandha kemudian menguraikan bahwa pendidikan merupakan ruang paling efektif dalam membentuk kesadaran ekologis generasi muda. Namun, ia mengakui bahwa sistem pendidikan modern belum sepenuhnya berhasil mengintegrasikan ilmu, nilai, dan etika ekologis secara holistik. Berangkat dari realitas tersebut, ia menawarkan konsep Green Islamic Education, yakni paradigma pendidikan Islam yang memadukan nilai tauhid, etika lingkungan, dan tindakan ekologis dalam keseluruhan proses pembelajaran.

“Melalui pendekatan ini, pendidikan Islam tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari penghambaan kepada Allah SWT,” jelasnya.


Paradigma tersebut, menurutnya, mendorong umat Islam untuk memandang alam sebagai ayat-ayat Tuhan yang harus dipelajari, dihormati, dan dijaga keseimbangannya sebagai amanah keberlanjutan. Landasan filosofisnya bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya keseimbangan (mīzān) dan larangan merusak tatanan alam.

Dalam konteks implementasi, Dr. Ramandha memaparkan tiga langkah strategis dalam menerapkan Green Islamic Education. Pertama, integrasi ekopedagogi dan ekoteologi ke dalam kurikulum pendidikan Islam, termasuk dalam pengembangan kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Kedua, pembentukan budaya akademik hijau di sekolah dan kampus melalui pengurangan penggunaan plastik, manajemen sampah terpadu, konservasi air, serta pemanfaatan energi terbarukan. Ketiga, revitalisasi praktik ibadah ekologis yang menegaskan bahwa nilai keberlanjutan melekat dalam ajaran Islam, tidak hanya pada aspek ritual, tetapi juga tindakan keseharian yang mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan.

Menutup orasinya, Dr. Ramandha menyampaikan pesan khusus kepada para wisudawan bahwa mereka akan menghadapi tantangan zaman yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka akan menjadi guru, pemikir, peneliti, dan pemimpin yang menentukan arah masa depan pendidikan dan masyarakat. Karena itu, pendidikan Islam harus bergerak dari sekadar transfer of knowledge menuju transformasi kesadaran ekologis.

Ia mengajak seluruh civitas academica untuk menjadikan bumi bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang suci yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, peradaban hijau tidak hanya dibangun melalui teknologi, tetapi melalui ilmu, cahaya spiritual, dan nilai-nilai Islam yang membebaskan serta menyejahterakan semua makhluk. (LF/Gby)