السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

GenBI STAIN SAR Kepri Gelar Workshop Pantun, Siapkan Buku Pantun Karya Anak Melayu

  • 22 November 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 134
Kegiatan Mahasiswa

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — GenBI Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menyelenggarakan Workshop Pantun sebagai kegiatan perdana kepengurusan baru tahun 2025. Kegiatan yang mengusung tema “Dari Kata Menjadi Karya: Menyatukan Pantun Melayu dan Semangat GenBI Membangun Negeri” ini dilaksanakan pada Sabtu (22/11/2025) dan bertujuan memperkuat literasi budaya serta melestarikan tradisi lisan masyarakat Melayu.

Workshop ini diikuti oleh 70 peserta yang terdiri dari anggota GenBI STAIN Kepri. Ketua panitia, Dina Aprilina Dewi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya nyata untuk membangkitkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Melayu, khususnya pantun sebagai identitas kesantunan masyarakat Melayu.

“Pantun memiliki bahasa halus dan indah yang diwariskan secara turun-temurun. Tidak sekadar merangkai kata, peserta diajak merasakan nilai budaya dalam kreativitas berpantun,” ujar Dina.

Ketua Umum GenBI STAIN Kepri, Rahmat Hidayat, menegaskan bahwa workshop ini tidak hanya bersifat pelatihan, namun mendorong peserta menghasilkan karya konkret berupa buku pantun.

“Pelatihan ini juga bagian dari implementasi kebijakan Bank Indonesia dalam memperkuat literasi budaya. Fokus kami adalah menghasilkan buku pantun bertema Bank Indonesia,” ungkapnya.

Sebagai tindak lanjut, GenBI STAIN Kepri akan menyusun dan menerbitkan lima buku pantun dalam waktu empat hari melalui proyek bertajuk “Bank Indonesia dalam Pantun”. Buku tersebut akan menjadi serial pantun resmi hasil kolaborasi Bank Indonesia dengan GenBI STAIN Kepri dan nantinya dapat diakses oleh masyarakat luas.

Pembina GenBI STAIN Kepri, Muhammad Azmi, M.E., menegaskan bahwa kegiatan ini mencerminkan identitas kampus dan organisasi GenBI sebagai institusi yang menjunjung nilai kemelayuan dan keislaman.

“Pelestarian pantun adalah bagian dari kewajiban budaya kita. Pantun sangat relevan dan terus eksis dalam kehidupan masyarakat Melayu,” ujarnya.

Workshop menghadirkan narasumber seorang sastrawan dan budayawan Kepulauan Riau, Dato Rendra Setyadiharja, yang juga pemegang Rekor MURI untuk kegiatan berbalas pantun selama lima jam. Dalam sesi materi, ia mengulas fungsi pantun sebagai alat komunikasi yang santun, penuh makna, dan menjadi gambaran keadaan sosial masyarakat Melayu.

Rendra juga menjelaskan struktur pantun yang terdiri dari empat baris dengan pola rima A-B-A-B, dua baris pertama sebagai sampiran dan dua baris berikutnya sebagai isi. Ia menekankan pentingnya kelogisan dan kedalaman makna dalam menciptakan pantun yang baik.

Kegiatan berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dalam suasana khidmat dan antusias. Workshop ini diakhiri dengan pengumuman bahwa buku pantun karya GenBI STAIN Kepri akan segera diluncurkan sebagai persembahan bagi anak negeri Melayu dan kontribusi nyata dalam pelestarian budaya lokal. (Rafli/LF)