السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Antusiasme tinggi ditunjukkan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau pada hari kedua pelaksanaan Seminar Kajian Koleksi Museum Bahari Bintan Tahun 2025, yang digelar pada Kamis, 20 November 2025, di Auditorium Razali Jaya STAIN SAR Kepri. Kegiatan ini merupakan rangkaian kerja sama antara kampus dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan dalam upaya memperkuat literasi budaya, sejarah, dan kemaritiman di kalangan civitas academica.
Pada
hari kedua, peserta seminar mendapatkan pemaparan mendalam mengenai “Dapur
Arang di Bintan sebagai Warisan Budaya”, yang disampaikan oleh dua
narasumber, yakni Dedi Arman dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta
Jauhar Mubarok dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV. Materi ini
menyoroti dapur arang sebagai salah satu tinggalan budaya pesisir yang
mencerminkan perkembangan industri rakyat, perdagangan maritim, dan interaksi
budaya di Kepulauan Riau.
Para
narasumber menjelaskan bahwa dapur arang merupakan tungku berbentuk kubah dari
bata atau tanah liat yang digunakan untuk memproduksi arang bakau. Dapur arang
telah menjadi bagian penting dari sejarah ekonomi masyarakat pesisir Bintan
sejak abad ke-19, dengan dukungan bahan baku kayu bakau (Rhizophora spp.)
dan akses perdagangan regional, terutama ke Singapura. Pada masa kolonial,
komoditas arang bakau bahkan mencapai produksi ribuan ton per bulan dan menjadi
penopang ekonomi ribuan pekerja lokal.
Dalam paparannya, para narasumber juga menyinggung regulasi historis terkait industri arang, termasuk aturan yang diterbitkan Kesultanan Riau-Lingga pada abad ke-19 yang mengatur penebangan bakau dan pendirian tungku. Mereka turut menguraikan perkembangan produksi dapur arang yang meningkat signifikan pada akhir abad ke-20 sebelum akhirnya mengalami kemunduran dan dilarang oleh pemerintah akibat dampak lingkungan yang ditimbulkan.


Selain menggali aspek historis dan ekologis, pemateri memaparkan lokasi-lokasi jejak dapur arang bersejarah di Bintan, seperti Sungai Kecil, Panglong Berakit, Tanjung Arang, dan wilayah pesisir lainnya. Potensi pengembangan dapur arang sebagai wisata sejarah dan edukasi ekologi bakau turut menjadi bagian dari diskusi menarik dalam sesi tersebut.
Kegiatan
seminar hari kedua ini mendapatkan respons positif dari mahasiswa. Salah satu
peserta mengungkapkan ketertarikannya terhadap materi yang disampaikan.
“Kegiatan
seminar ini membuka wawasan kami tentang sejarah dan budaya daerah, terutama
bagaimana dapur arang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir
Bintan,” ungkapnya.
Pelaksanaan
hari kedua Seminar Kajian Koleksi Museum Bahari Bintan Tahun 2025 ini
menegaskan komitmen STAIN SAR Kepri dalam mendorong penguatan khazanah budaya
dan sejarah lokal, sekaligus memperluas ruang akademik yang menghubungkan
mahasiswa dengan konteks sosial-kultural Kepulauan Riau. (LF)
STAIN Kepri Ikuti Sosialisasi Nasional UM-PTKIN 2026, Perkuat Peran Humas dalam Branding Kampus
Bangun Budaya Publikasi Ilmiah, Mahasiswa PBA STAIN SAR Kepri Ikuti Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah
PENGUMUMAN DAFTAR ULANG SPAN 2026