السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

STAIN SAR Kepri Jadi Tuan Rumah Seminar Kajian Koleksi Museum Bahari Bintan Tahun 2025

  • 19 November 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 165
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menjadi tuan rumah kegiatan Seminar Kajian Koleksi Museum Bahari Bintan Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 19 November 2025, bertempat di Auditorium Razali Jaya Kampus STAIN SAR Kepri.

Seminar ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Azwar Sutihat, Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV Kementerian Kebudayaan, serta M. Faiz Rahman, peneliti yang mempresentasikan hasil kajiannya terhadap koleksi keramik Museum Bahari Bintan. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Ketua II STAIN SAR Kepri, perwakilan dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari berbagai program studi.

Dalam keterangannya, Wakil Ketua II STAIN SAR Kepri, Dr. Almahfuz, M.Si., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada STAIN SAR Kepri sebagai tuan rumah kegiatan strategis ini. Ia menegaskan bahwa seminar seperti ini penting dalam memperkuat keterlibatan perguruan tinggi dalam pelestarian budaya daerah.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi akademik yang tidak hanya memperkaya khasanah keilmuan, tetapi juga menegaskan peran STAIN SAR Kepri dalam mendukung upaya pelestarian sejarah dan warisan budaya maritim Kepulauan Riau,” ungkapnya.

Pada sesi pertama, Azwar Sutihat menyajikan materi berjudul “Keramik dalam Lintasan Sejarah di Nusantara”. Ia menjelaskan sejarah panjang perkembangan keramik dunia, mulai dari masa prasejarah hingga persebarannya ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Nusantara, melalui jalur perdagangan dan interaksi budaya.

Dalam paparannya, Azwar mengemukakan bahwa keramik yang ditemukan di Nusantara berasal dari berbagai periode dan pusat produksi dunia, antara lain Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Eropa.

“Keramik tidak hanya berfungsi sebagai benda utilitarian, tetapi juga menjadi penanda perjalanan kebudayaan, perdagangan, dan akulturasi yang membentuk sejarah peradaban di wilayah kita,” ungkapnya.

Ia juga menguraikan keramik berdasarkan jenisnya; terakota, stoneware, dan porselin serta karakteristik produksi pada Dinasti Tang, Song, Yuan, hingga puncak kejayaan porselin pada Dinasti Ming.


Pada sesi kedua, M. Faiz Rahman memaparkan materi bertajuk “Kajian Koleksi Keramik Museum Bahari Bintan”. Materi ini merupakan hasil kajian arkeologis terhadap koleksi keramik yang disita dari kasus penangkapan pada tahun 2014 dan kini menjadi bagian dari koleksi museum.

Kajian dilakukan melalui klasifikasi artefak, pengukuran, dokumentasi, hingga analisis hiasan dan bahan. Berdasarkan tipologi dan karakteristik glasir, seluruh keramik yang dikaji termasuk kategori porselin biru-putih (underglaze blue) yang berasal dari Tiongkok.

Hasil pertanggalan menunjukkan bahwa mayoritas keramik tersebut diproduksi pada masa Dinasti Qing, khususnya periode Kaisar Kangxi (1662–1722 M), sebuah masa yang dikenal sebagai salah satu fase penting perkembangan keramik Tiongkok.

“Motif-motif pada keramik ini baik flora, fauna, maupun lanskap memberikan informasi penting mengenai estetika, teknik produksi, serta jaringan perdagangan internasional yang pernah berlangsung di wilayah Kepulauan Riau,” jelas Faiz dalam presentasinya.

Kegiatan seminar ini menjadi wahana strategis untuk memperkuat literasi budaya di lingkungan STAIN SAR Kepri sekaligus membuka ruang sinergi antara perguruan tinggi dan instansi kebudayaan. Kehadiran para akademisi dan mahasiswa memberikan kontribusi terhadap upaya pelestarian warisan budaya, khususnya artefak keramik yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Dengan terselenggaranya seminar ini, STAIN SAR Kepri menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan riset dan kajian kebudayaan yang relevan dengan identitas sejarah dan kemaritiman Kepulauan Riau, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi lintas lembaga. (LF/Gby)