السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Perkuat Peran Agama dan Budaya di Era Digital, Tiga Dosen STAIN SAR Kepri Paparkan Gagasan Inovatif pada The 2nd IMSIC 2025

  • 11 November 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 311
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau kembali menegaskan eksistensinya di kancah akademik internasional melalui penyelenggaraan The 2nd Islamic and Malay Studies International Conference (IMSIC) 2025. Dalam Special Panel 2 bertajuk “The Role of Religions and Cultures in Facing Digital Era for Islamic and Malay Society”, tiga dosen STAIN SAR Kepri tampil sebagai speaker dengan gagasan yang menyoroti integrasi nilai Islam, budaya Melayu, dan tantangan pendidikan serta ekonomi di era transformasi digital.

Kegiatan panel yang dipandu oleh Nanda Kristia Santoso, M.Pd. ini berlangsung pada Selasa, 11 November 2025 di Auditorium Razali Jaya, Kampus STAIN SAR Kepri.

Speaker pertama, Dr. Nahrim Ajmain, M.A, memaparkan makalah berjudul “Brain Rot dan Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital” yang membahas fenomena brain rot—penurunan fungsi kognitif dan spiritual akibat kecanduan teknologi digital. Menurutnya, dunia digital telah mendorong pola pikir instan dan mengikis kemampuan reflektif manusia, sehingga pendidikan Islam perlu hadir sebagai penyeimbang antara kemajuan teknologi dan pembentukan karakter spiritual. Ia menawarkan model pendidikan berbasis tarbiyah ruhiyah, ‘aqliyah, dan nafsiyah sebagai upaya integratif untuk menumbuhkan spiritualitas, nalar kritis, dan kedisiplinan digital.

“Krisis utama di era digital bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada paradigma manusia terhadap ilmu,” tegasnya.

Pendidikan Islam, lanjutnya, harus menjadi antidote terhadap krisis moral dan spiritual modern dengan tujuan membentuk insan ulul albab yang seimbang antara akal, hati, dan teknologi.


Speaker kedua, Romi Aqmal, M.Si., membawakan makalah berjudul “Local Cultural Resistance in the Digital Era: The Socio-Cultural and Religious Communication Meaning of the ‘Makan Sehidang Berlima’ Tradition for the Malay Community of Lingga.” Ia menyoroti tradisi Makan Sehidang Berlima—yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kemendikbud RI pada tahun 2020—sebagai simbol kesetaraan sosial, kebersamaan, dan nilai Islam di tengah modernitas digital.

Melalui pendekatan sosiologi-antropologis, Romi menjelaskan bahwa masyarakat Melayu Lingga mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan akar budayanya. Platform digital seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook kini berfungsi sebagai balai adat virtual untuk mendokumentasikan nilai-nilai tradisi secara kreatif dan edukatif. Tradisi ini, katanya, menjadi bentuk cultural resistance terhadap individualisme digital sekaligus bukti bahwa budaya lokal dapat bersinergi dengan dakwah digital dalam memperkuat kohesi sosial dan menjaga identitas kemelayuan.

Sementara itu, Dwi Vita Lestari Soehardi, M.Pd., memaparkan penelitian berjudul “Maqashid al-Shariah and Digital Empowerment in Islamic Economics: Strengthening Local Halal Ecosystems in the Malay Maritime Region.” Ia menyoroti pentingnya integrasi nilai-nilai Maqashid al-Shariah dengan inovasi digital untuk memperkuat ekosistem ekonomi halal di kawasan maritim Melayu. Berdasarkan Systematic Literature Review terhadap 75 publikasi ilmiah, Soehardi mengidentifikasi tiga kluster utama: penerapan etika maqashid dalam pembangunan ekonomi berkeadilan, digitalisasi sebagai motor penggerak ekonomi Islam, serta penguatan kearifan lokal Melayu sebagai fondasi etis inovasi halal.


Ia menawarkan konsep Maqashid Digital Culture (MDC) sebagai model integratif yang memadukan nilai Islam, teknologi, dan budaya Melayu guna membangun sistem ekonomi digital yang berkeadilan dan berorientasi barakah.

“Teknologi harus menjadi sarana pemberdayaan spiritual dan sosial, bukan sekadar instrumen ekonomi,” ujarnya.

Panel diskusi ini mencerminkan kontribusi nyata STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau dalam memperkuat tradisi akademik berbasis nilai Islam dan budaya Melayu. Melalui tema besar “The Role of Religions and Cultures in Facing Digital Era for Islamic and Malay Society,” STAIN SAR Kepri menunjukkan komitmen akademiknya dalam mengintegrasikan keilmuan, spiritualitas, dan kebudayaan sebagai fondasi menghadapi tantangan globalisasi digital. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian The 2nd IMSIC 2025 yang mempertemukan lebih dari 80 pemakalah dari berbagai negara, sekaligus memperkokoh posisi STAIN SAR Kepri sebagai pusat kajian Islam dan Melayu yang unggul, berwawasan global, dan berdaya saing internasional. (LF/Gby)