السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

STAIN SAR Kepri Mantapkan Kiprah Global, The 2nd IMSIC 2025 Hadirkan Invited Speakers Bahas Nilai Islam dan Inovasi Digital

  • 11 November 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 215
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau kembali mencetak capaian akademik bertaraf internasional dengan sukses menyelenggarakan The 2nd Islamic and Malay Studies International Conference (IMSIC) 2025. Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan dinamika keilmuan Islam dan budaya Melayu di tengah derasnya arus transformasi digital. Konferensi berlangsung selama dua hari, 11–12 November 2025, di Auditorium Razali Jaya, Kampus STAIN SAR Kepri, Bintan.

Pada hari pertama, sesi Special Panel Discussion mengusung tema “Islamic Innovation for Better Society” yang dimoderatori oleh Fajar Tresna Utama, M.A. Sesi ini menghadirkan dua invited speakers terkemuka, yakni Prof. Jaseem Ali Jaseem, Ph.D. dari International Islamic University of Minnesota, United States, dan Prof. Dr. Mikdar Rusdi dari Kolej Universiti Perguruan Ugama Seri Begawan, Brunei Darussalam. Kedua narasumber memberikan perspektif mendalam mengenai inovasi pendidikan dan nilai-nilai Islam dalam membangun masyarakat yang beradab di era digital.

Dalam paparannya, Prof. Dr. Mikdar Rusdi menyampaikan materi berjudul “Prophet Adam (A.S.) as the First Educator: Qur’anic Insights for Shaping Islamic Values in the Digital Age.” Ia menegaskan bahwa Nabi Adam A.S. merupakan pendidik pertama dalam sejarah kemanusiaan, sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an. Menurutnya, kisah Nabi Adam menjadi fondasi konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam berorientasi nilai (tarbiyah) yang relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern.


Lebih lanjut, Prof. Mikdar menjelaskan bahwa pendidikan Islam seharusnya melahirkan insan khalifah fil ardh, manusia yang mampu memimpin, menjaga etika, serta menyeimbangkan antara ilmu dan nilai moral di tengah kemajuan teknologi. Ia menekankan pentingnya meneladani nilai-nilai tarbiyah Qur’ani seperti tanggung jawab, ketaatan, dan adab dalam setiap proses pembelajaran.

“Teknologi hendaknya menjadi sarana memperkuat iman, akal, dan akhlak, bukan sebaliknya,” tegas Prof. Mikdar.

Ia menambahkan bahwa kisah Nabi Adam bukan sekadar sejarah, tetapi panduan pendidikan yang menuntun manusia menuju keseimbangan antara spiritualitas, intelektualitas, dan tanggung jawab sosial.


Sementara itu, Prof. Jaseem Ali Jaseem, Ph.D., dalam pemaparannya menyoroti pentingnya inovasi berbasis nilai-nilai Islam untuk membangun masyarakat global yang adil dan beretika. Ia menegaskan bahwa digitalisasi harus disertai dengan moral compass yang kuat agar kemajuan teknologi tidak menjauhkan umat dari nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui konferensi ini, STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menunjukkan komitmennya sebagai pusat kajian Islam dan Melayu yang berwawasan global, sekaligus memperkuat perannya dalam membangun sinergi akademik lintas negara. IMSIC 2025 menjadi ruang intelektual yang menegaskan bahwa Islam dan budaya Melayu memiliki kontribusi besar dalam membentuk peradaban digital yang beradab, inklusif, dan berkeadilan. (LF/Gby)