السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau kembali mencetak capaian akademik bertaraf internasional dengan sukses menyelenggarakan The 2nd Islamic and Malay Studies International Conference (IMSIC) 2025. Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan dinamika keilmuan Islam dan budaya Melayu di tengah derasnya arus transformasi digital. Konferensi berlangsung selama dua hari, 11–12 November 2025, di Auditorium Razali Jaya, Kampus STAIN SAR Kepri, Bintan.
Pada
hari pertama, sesi Special Panel Discussion mengusung tema “Islamic
Innovation for Better Society” yang dimoderatori oleh Fajar Tresna Utama,
M.A. Sesi ini menghadirkan dua invited speakers terkemuka, yakni Prof.
Jaseem Ali Jaseem, Ph.D. dari International Islamic University of Minnesota,
United States, dan Prof. Dr. Mikdar Rusdi dari Kolej Universiti
Perguruan Ugama Seri Begawan, Brunei Darussalam. Kedua narasumber
memberikan perspektif mendalam mengenai inovasi pendidikan dan nilai-nilai
Islam dalam membangun masyarakat yang beradab di era digital.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Mikdar Rusdi menyampaikan materi berjudul “Prophet Adam (A.S.) as the First Educator: Qur’anic Insights for Shaping Islamic Values in the Digital Age.” Ia menegaskan bahwa Nabi Adam A.S. merupakan pendidik pertama dalam sejarah kemanusiaan, sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an. Menurutnya, kisah Nabi Adam menjadi fondasi konseptual bagi pengembangan pendidikan Islam berorientasi nilai (tarbiyah) yang relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern.


Lebih
lanjut, Prof. Mikdar menjelaskan bahwa pendidikan Islam seharusnya melahirkan
insan khalifah fil ardh, manusia yang mampu memimpin, menjaga etika,
serta menyeimbangkan antara ilmu dan nilai moral di tengah kemajuan teknologi.
Ia menekankan pentingnya meneladani nilai-nilai tarbiyah Qur’ani seperti
tanggung jawab, ketaatan, dan adab dalam setiap proses pembelajaran.
“Teknologi
hendaknya menjadi sarana memperkuat iman, akal, dan akhlak, bukan sebaliknya,”
tegas Prof. Mikdar.
Ia menambahkan bahwa kisah Nabi Adam bukan sekadar sejarah, tetapi panduan pendidikan yang menuntun manusia menuju keseimbangan antara spiritualitas, intelektualitas, dan tanggung jawab sosial.


Sementara
itu, Prof. Jaseem Ali Jaseem, Ph.D., dalam pemaparannya menyoroti pentingnya
inovasi berbasis nilai-nilai Islam untuk membangun masyarakat global yang adil
dan beretika. Ia menegaskan bahwa digitalisasi harus disertai dengan moral
compass yang kuat agar kemajuan teknologi tidak menjauhkan umat dari
nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui
konferensi ini, STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menunjukkan komitmennya
sebagai pusat kajian Islam dan Melayu yang berwawasan global, sekaligus
memperkuat perannya dalam membangun sinergi akademik lintas negara. IMSIC 2025
menjadi ruang intelektual yang menegaskan bahwa Islam dan budaya Melayu
memiliki kontribusi besar dalam membentuk peradaban digital yang beradab,
inklusif, dan berkeadilan. (LF/Gby)
STAIN Kepri Ikuti Sosialisasi Nasional UM-PTKIN 2026, Perkuat Peran Humas dalam Branding Kampus
Bangun Budaya Publikasi Ilmiah, Mahasiswa PBA STAIN SAR Kepri Ikuti Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah
PENGUMUMAN DAFTAR ULANG SPAN 2026