السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

STAIN Kepri Gelar Workshop Kesenian: Gali Nilai Edukatif Pantun Melayu Bersama UKM Basekam

  • 09 Mei 2025
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 284
Kegiatan Mahasiswa

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Kesenian Kampus (UKM Basekam) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menyelenggarakan Workshop Kesenian pada Jumat, 9 Mei 2025. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Razali Jaya STAIN Kepri ini bertujuan sebagai ruang pembinaan kreatif serta penguatan karakter mahasiswa melalui seni dan budaya.

Workshop ini dibuka oleh Pembina UKM BAsekam sekaligus Wakil Ketua II STAIN Kepri, Dr. Almahfuz, M.Si., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dalam membangun ruang ekspresi seni yang produktif.

“Seni bukan hanya tentang ekspresi estetik, tetapi juga media pembentukan karakter, nilai, dan identitas kebudayaan yang harus terus dikembangkan oleh generasi muda,” ujarnya.


Ketua UKM BAsekam, Mar’atus Sholeha, mahasiswa semester IV Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan mempererat kebersamaan antaranggota, menggali potensi seni yang dimiliki mahasiswa, serta membangun semangat berorganisasi yang progresif.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menciptakan ruang belajar yang mendorong kreativitas dan melahirkan karya seni yang dapat membesarkan UKM BAsekam,” ungkapnya.

Workshop ini menghadirkan M. Khairil Ramadhan sebagai pemateri, yang membawakan materi berjudul “Mengenal Sastra Klasik Melayu: Pantun.” Dalam paparannya, Khairil menjelaskan bahwa pantun merupakan bentuk sastra klasik Melayu yang kaya akan nilai-nilai moral, spiritual, dan budaya. Ia menguraikan bahwa kata “pantun” berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna tertib, santun, dan lurus, serta erat kaitannya dengan pepatah dan peribahasa dalam tradisi lisan masyarakat Melayu.

Sebagai bagian dari komunikasi budaya berkonteks tinggi (high-context culture), pantun digunakan dalam berbagai situasi sosial seperti musyawarah, pernikahan, dakwah, hiburan, dan pendidikan. Secara struktur, pantun terdiri dari empat baris dengan pola sajak a-b-a-b, yang memuat unsur sampiran dan isi, serta sarat dengan simbolisme budaya seperti melati, bangau, sirih, dan Gunung Daik yang mencerminkan kearifan lokal.


Ia juga menjelaskan bahwa jenis pantun sangat beragam, mulai dari pantun adat, agama, nasihat, hingga jenaka. Khairil menegaskan bahwa pantun tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukatif dan refleksi nilai-nilai kebangsaan yang penting dalam membentuk jati diri dan karakter generasi muda.

Sebagai penutup, Khairil menegaskan bahwa pelestarian pantun tidak hanya penting sebagai warisan literasi, tetapi juga sebagai bagian dari pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

Melalui kegiatan ini, STAIN Kepri melalui UKM Basekam mempertegas komitmennya dalam membangun ekosistem akademik yang mendukung pengembangan potensi seni, budaya, dan literasi mahasiswa. Workshop ini juga menjadi ruang afirmasi bahwa seni dan sastra dapat menjadi media transformasi pendidikan dan sosial yang bermakna bagi mahasiswa sebagai calon intelektual Muslim yang unggul dan berdaya saing. (LF/Gby)