السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Antisipasi Narasi Kekerasan dikampus, Ketua STAIN SAR Kepri Ajak Moderasi dalam Beragama pada Webinar ISAIS

  • 04 Mei 2021
  • Oleh: Luluk Fatimah, S.Pd
  • 216
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu, Berteraskan Ilmu Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau Dr. Muhammad Faisal, M.Ag menjadi narasumber pada kegiatan webinar yang ditaja oleh Institute for Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) UIN Suska Riau yang dilaksanakan pada Selasa (04/05/2021).

Institute for Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) UIN Suska Riau merupakan pusat lembaga kajian Islam Asia Tenggara yang memiliki visi Terbangunnya Tradisi Pemikiran Islam yang inklusif, moderat, serta plural dan berbasis pada nilai-nilai keindonesiaan, modern, kemanusiaan dengan pengkajian Islam dan masyarakat.

Sebanyak enam orang narasumber hadir dalam webinar tersebut, diantaranya Ketua STAIN SAR Kepri Dr. Muhammad Faisal, M.Ag., Dosen STAIN SAR Dr. Pauzi, M.Si., dan 3 orang pengurus ISAIS yakni Drs. Dardiri Husni, MA., Bambang Hermanto, MA., dan Dr. Sofiandi, Fauzi, S.Sos, MA.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah ingin mendiskusikan hasil progam ISAIS bersama The Asia Foundation selama 2 tahun yang bernama Inisiatif Pencegahan Kekerasan (IPK). Juga perlunya lembaga Rumah Moderasi Beragama di Kampus.

Dr. Muhammad Faisal, M.Ag dalam pemaparannya menjelaskan bahwa pencegahan narasi kekerasan yang terjadi di Perguruan Tinggi Kegamaan Islam tidak hanya bersumber dari mahasiswa saja, akan tetapi perlu penelusuran lebih lanjut terhadap semua warga kampus baik dosen maupun tenaga kependidikan.

Lebih lanjut Ketua menekankan bahwa pencegahan narasi kekerasan perlu diantisipasi dari para pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Perguruan Tinggi, karena para pembina ini yang nantinya akan mendidik, mengarahkan dan membina UKM Kampus dalam satu tahun kepengurusan.

“Hal ini pentingnya moderasi dalam beragama dalam setiap elemen kampus, alhamdulillah STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau sudah ada Rumah Moderasi Beragama yang nantinya akan memonitoring setiap warga kampus agar menjadi muslim yang moderat, serta perlu adanya tokoh-tokoh yang bisa meminimalisir narasi kekerasan pada kampus.” Pungkas Ketua. (luluk)