السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Gunung Kijang, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sekolah yang ramah anak tidak hanya dibangun melalui fasilitas yang memadai, tetapi juga melalui budaya saling menghargai, menjaga perasaan, dan menciptakan ruang belajar yang aman bagi setiap peserta didik. Semangat tersebut diwujudkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bintan 12 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau melalui sosialisasi “Stop Bullying” di SD Negeri 003 Gunung Kijang, Kamis (6/8/2026).
Kegiatan
yang berlangsung pukul 09.30 WIB tersebut menjadi ruang edukasi bagi siswa
untuk mengenali perundungan atau bullying serta memahami pentingnya
membangun relasi pertemanan yang sehat di lingkungan sekolah.
Dalam
kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memperkenalkan bullying sebagai
perilaku yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti, merendahkan, atau
mengintimidasi orang lain, baik melalui perkataan, tindakan, maupun pengucilan.
Siswa juga diajak mengenali berbagai bentuk perundungan, termasuk perundungan
verbal, fisik, sosial, hingga perilaku yang dilakukan melalui media digital.
Materi
disampaikan dengan pendekatan yang sederhana dan sesuai dengan karakteristik
peserta didik sekolah dasar. Mahasiswa KKN tidak hanya memberikan penjelasan,
tetapi juga mengajak siswa berdiskusi, mengikuti permainan edukatif, serta
memahami berbagai contoh perilaku yang mencerminkan sikap menghargai dan
menghormati teman.
Perwakilan
mahasiswa KKN STAIN SAR Kepri menjelaskan bahwa edukasi mengenai perundungan
perlu diberikan sejak dini agar anak mampu membedakan antara candaan yang sehat
dan perilaku yang dapat menyakiti orang lain.
“Kami
ingin mengajak siswa memahami bahwa tidak semua candaan dapat dianggap sebagai
hal yang biasa. Ketika sebuah perkataan atau tindakan membuat orang lain merasa
takut, malu, tertekan, atau terluka, maka hal tersebut perlu dihentikan. Karena
itu, kami mengajak siswa untuk saling menghargai, tidak mengejek, tidak
melakukan kekerasan, dan berani melapor kepada guru apabila mengalami atau
melihat tindakan perundungan,” jelasnya.
Melalui
sesi tanya jawab dan permainan edukatif, para siswa juga diberikan pemahaman
mengenai pentingnya menjadi teman yang suportif. Mereka didorong untuk tidak
menjadi pelaku maupun sekadar penonton ketika terjadi perundungan, tetapi
mengambil sikap dengan memberikan dukungan kepada korban dan melaporkan
kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya.
Dosen
Pendamping Lapangan (DPL) KKN Bintan 12, Hanafi Yunus, Lc., M.H.I.,
menyampaikan bahwa membangun lingkungan pendidikan yang aman merupakan tanggung
jawab bersama. Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan
melalui teori, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
“Sekolah
merupakan ruang penting bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan membangun
karakter. Karena itu, setiap anak harus merasa aman dan dihargai. Edukasi
tentang bullying menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa
menghormati orang lain merupakan nilai penting dalam kehidupan bersama,”
ujarnya.
Ia
menambahkan bahwa keberadaan mahasiswa KKN di tengah masyarakat diharapkan
tidak hanya menghadirkan program yang bersifat edukatif, tetapi juga mendorong
terbentuknya kebiasaan positif yang dapat terus dilanjutkan setelah program KKN
berakhir.
Bagi
mahasiswa KKN Bintan 12, sosialisasi tersebut menjadi salah satu bentuk
kontribusi dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang inklusif dan
berorientasi pada perkembangan karakter anak. Edukasi tentang perundungan juga
menjadi momentum untuk menanamkan nilai empati, kepedulian, keberanian, dan
tanggung jawab sosial sejak usia sekolah.
Kegiatan
tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan yang diperoleh siswa
selama sosialisasi. Lebih jauh, nilai-nilai yang diperkenalkan dapat diterapkan
dalam interaksi sehari-hari, baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungan
keluarga dan masyarakat.
Melalui
gerakan “Stop Bullying”, mahasiswa KKN Bintan 12 STAIN SAR Kepri bersama SD
Negeri 003 Gunung Kijang mendorong terciptanya ruang belajar yang aman, nyaman,
dan penuh penghargaan. Sebab, ketika anak merasa aman untuk menjadi dirinya
sendiri, mereka memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, berkembang,
membangun kepercayaan diri, dan meraih prestasi.
Menghentikan
bullying bukan sekadar menghentikan satu tindakan. Ini adalah upaya bersama
untuk menumbuhkan generasi yang mampu menghargai, melindungi, dan menguatkan
satu sama lain. (LF/KKN Bintan 12)
DWP STAIN Kepri Dukung Pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis bagi Mahasiswa Baru pada Pra-PBAK 2026
GenBI STAIN Kepri Selenggarakan Cek Kesehatan Gratis dalam Rangka Pra-PBAK 2026