السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bangun Sekolah Ramah Anak, Mahasiswa KKN STAIN SAR Kepri Ajak Siswa SDN 003 Gunung Kijang Hentikan Bullying

  • 06 Agustus 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 190
Kegiatan Mahasiswa

Gunung Kijang, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sekolah yang ramah anak tidak hanya dibangun melalui fasilitas yang memadai, tetapi juga melalui budaya saling menghargai, menjaga perasaan, dan menciptakan ruang belajar yang aman bagi setiap peserta didik. Semangat tersebut diwujudkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bintan 12 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau melalui sosialisasi “Stop Bullying” di SD Negeri 003 Gunung Kijang, Kamis (6/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.30 WIB tersebut menjadi ruang edukasi bagi siswa untuk mengenali perundungan atau bullying serta memahami pentingnya membangun relasi pertemanan yang sehat di lingkungan sekolah.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memperkenalkan bullying sebagai perilaku yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain, baik melalui perkataan, tindakan, maupun pengucilan. Siswa juga diajak mengenali berbagai bentuk perundungan, termasuk perundungan verbal, fisik, sosial, hingga perilaku yang dilakukan melalui media digital.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang sederhana dan sesuai dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar. Mahasiswa KKN tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga mengajak siswa berdiskusi, mengikuti permainan edukatif, serta memahami berbagai contoh perilaku yang mencerminkan sikap menghargai dan menghormati teman.

Perwakilan mahasiswa KKN STAIN SAR Kepri menjelaskan bahwa edukasi mengenai perundungan perlu diberikan sejak dini agar anak mampu membedakan antara candaan yang sehat dan perilaku yang dapat menyakiti orang lain.

“Kami ingin mengajak siswa memahami bahwa tidak semua candaan dapat dianggap sebagai hal yang biasa. Ketika sebuah perkataan atau tindakan membuat orang lain merasa takut, malu, tertekan, atau terluka, maka hal tersebut perlu dihentikan. Karena itu, kami mengajak siswa untuk saling menghargai, tidak mengejek, tidak melakukan kekerasan, dan berani melapor kepada guru apabila mengalami atau melihat tindakan perundungan,” jelasnya.

Melalui sesi tanya jawab dan permainan edukatif, para siswa juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjadi teman yang suportif. Mereka didorong untuk tidak menjadi pelaku maupun sekadar penonton ketika terjadi perundungan, tetapi mengambil sikap dengan memberikan dukungan kepada korban dan melaporkan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya.

Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN Bintan 12, Hanafi Yunus, Lc., M.H.I., menyampaikan bahwa membangun lingkungan pendidikan yang aman merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

“Sekolah merupakan ruang penting bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan membangun karakter. Karena itu, setiap anak harus merasa aman dan dihargai. Edukasi tentang bullying menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa menghormati orang lain merupakan nilai penting dalam kehidupan bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan mahasiswa KKN di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menghadirkan program yang bersifat edukatif, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan positif yang dapat terus dilanjutkan setelah program KKN berakhir.

Bagi mahasiswa KKN Bintan 12, sosialisasi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada perkembangan karakter anak. Edukasi tentang perundungan juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai empati, kepedulian, keberanian, dan tanggung jawab sosial sejak usia sekolah.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan yang diperoleh siswa selama sosialisasi. Lebih jauh, nilai-nilai yang diperkenalkan dapat diterapkan dalam interaksi sehari-hari, baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Melalui gerakan “Stop Bullying”, mahasiswa KKN Bintan 12 STAIN SAR Kepri bersama SD Negeri 003 Gunung Kijang mendorong terciptanya ruang belajar yang aman, nyaman, dan penuh penghargaan. Sebab, ketika anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri, mereka memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, berkembang, membangun kepercayaan diri, dan meraih prestasi.

Menghentikan bullying bukan sekadar menghentikan satu tindakan. Ini adalah upaya bersama untuk menumbuhkan generasi yang mampu menghargai, melindungi, dan menguatkan satu sama lain. (LF/KKN Bintan 12)