السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Upaya pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan menjaga tradisi, tetapi juga melalui pengembangan kreativitas yang mampu menyesuaikan warisan budaya dengan kebutuhan zaman. Semangat itu terlihat dalam kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau bersama pengrajin keris tradisional, Ibrahim, di Desa Kelong, Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan, Minggu (26/7).
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mempelajari proses pembuatan keris kayu tradisional sekaligus pengembangan produk kerajinan berbentuk gantungan kunci keris yang berpotensi menjadi cendera mata khas Desa Kelong. Program ini menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa yang berfokus pada pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan potensi ekonomi kreatif masyarakat.
Dalam kegiatan itu, Ibrahim memperkenalkan berbagai tahapan pembuatan keris berbahan kayu, mulai dari pemilihan bahan baku, pembuatan pola, proses pemotongan dan pembentukan, pengukiran motif, hingga tahap penghalusan dan penyelesaian akhir. Mahasiswa juga diajak memahami nilai filosofis yang terkandung dalam keris sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Melayu.
Selain mempelajari pembuatan keris dalam ukuran standar, mahasiswa turut mengikuti proses pembuatan gantungan kunci berbentuk keris. Produk tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai suvenir yang lebih praktis dan mudah dipasarkan, tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat pada bentuk keris itu sendiri.
Ketua Kelompok KKN Desa Kelong, Muhammad Syafiq, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk mengenali, mendokumentasikan, dan mempromosikan potensi budaya yang dimiliki masyarakat setempat.
“Kami melihat keris bukan hanya sebagai hasil kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga. Melalui kegiatan ini, kami ingin belajar langsung dari pelaku budaya sekaligus melihat bagaimana warisan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Syafiq.
Menurutnya, pengembangan kerajinan berbasis budaya menjadi salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perubahan zaman. Dengan inovasi yang tepat, warisan budaya dapat tetap relevan dan dikenal oleh generasi muda.
“Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengenang atau menyimpan warisan tersebut. Budaya perlu terus diperkenalkan dan dikembangkan agar tetap hidup di tengah masyarakat. Produk seperti gantungan kunci berbentuk keris menjadi salah satu contoh bagaimana nilai budaya dapat dikemas dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,” katanya.
Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai keterampilan kerajinan sekaligus memperluas pemahaman tentang pentingnya kearifan lokal dalam pembangunan masyarakat. Interaksi dengan pengrajin juga menjadi ruang belajar mengenai ketekunan, kreativitas, dan komitmen dalam menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan dan sosial, tetapi juga dapat dilakukan melalui pendampingan dan promosi potensi budaya lokal. Dengan melibatkan mahasiswa dalam proses belajar langsung dari pelaku budaya, pengetahuan yang dimiliki masyarakat dapat didokumentasikan dan diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.
Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa KKN STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau berharap kerajinan keris kayu dan produk turunannya dapat terus berkembang sebagai bagian dari identitas Desa Kelong. Selain menjadi simbol pelestarian budaya, kerajinan tersebut juga berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat berbasis kearifan lokal. (Gby/Syafiq)
DWP STAIN Kepri Dukung Pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis bagi Mahasiswa Baru pada Pra-PBAK 2026
GenBI STAIN Kepri Selenggarakan Cek Kesehatan Gratis dalam Rangka Pra-PBAK 2026