السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Menjaga Jejak Warisan Melayu, Mahasiswa KKN STAIN Kepri Belajar dari Pengrajin Keris Tradisional Desa Kelong

  • 23 Juli 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 38
Berita Utama

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, upaya menjaga dan mengenalkan warisan budaya lokal kepada generasi muda menjadi tantangan tersendiri. Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau melakukan silaturahmi dan eksplorasi budaya ke kediaman Ibrahim, pengrajin keris tradisional di Desa Kelong, Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan, Kamis (23/7).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian mahasiswa yang tidak hanya berfokus pada bidang pendidikan dan keagamaan, tetapi juga pelestarian budaya lokal sebagai salah satu kekayaan masyarakat pesisir Kepulauan Riau. Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa berupaya menggali pengetahuan mengenai nilai sejarah, filosofi, dan proses pembuatan keris yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan itu, Ibrahim berbagi pengalaman mengenai perjalanan panjangnya sebagai pengrajin keris. Mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai makna simbolik keris dalam budaya Melayu, fungsi sosialnya di masa lalu, serta proses pembuatannya yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan khusus.

Selain mendengarkan penjelasan, mahasiswa juga berkesempatan melihat secara langsung sejumlah keris hasil karya Ibrahim. Dari proses tersebut, mereka memahami bahwa setiap keris memiliki karakteristik, bentuk, dan nilai filosofis yang berbeda, mencerminkan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketua Kelompok KKN Desa Kelong, Muhammad Syafiq, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk mengenali sekaligus mendokumentasikan potensi budaya yang dimiliki masyarakat setempat.

“Pengabdian tidak hanya berbicara tentang program sosial atau pendidikan, tetapi juga bagaimana mahasiswa hadir untuk belajar dari masyarakat. Melalui kunjungan ini, kami ingin memahami dan mengenalkan kembali warisan budaya lokal yang memiliki nilai sejarah dan identitas yang penting bagi masyarakat Melayu,” ujar Syafiq.

Menurut dia, keberadaan pengrajin keris tradisional seperti Ibrahim memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya di tengah perubahan zaman. Karena itu, generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengenal dan menghargai warisan budaya yang ada di lingkungannya.

“Banyak nilai yang bisa dipelajari dari para pelaku budaya, mulai dari ketekunan, kesabaran, hingga komitmen dalam menjaga tradisi. Kami berharap pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih peduli terhadap pelestarian budaya daerah,” katanya.

Kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai pentingnya pendekatan berbasis kearifan lokal dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Melalui interaksi dengan tokoh budaya, mahasiswa dapat memahami bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi dan pendidikan, tetapi juga upaya menjaga identitas budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bagi mahasiswa KKN STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, silaturahmi dengan pengrajin keris tradisional menjadi momentum untuk memperluas wawasan sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya. Dari Desa Kelong, mereka belajar bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber nilai dan identitas yang perlu terus dirawat agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap semakin banyak generasi muda yang mengenal dan menghargai kekayaan budaya lokal. Sebab, menjaga budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab para pelaku seni dan budaya, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan generasi muda yang akan melanjutkan estafet pelestarian warisan bangsa. (Gby/Syafiq)