السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Dari Persepsi Jadi Reputasi, Webinar HMPS MPI STAIN SAR Kepri Ungkap Formula Komunikasi Efektif Era Digital

  • 20 Juli 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 173
Kegiatan Mahasiswa

Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sebagai bagian dari komitmen meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan komunikasi di era digital, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau menggelar webinar bertajuk "Shaping Perception: Membangun Citra, Menumbuhkan Kepercayaan melalui Komunikasi Efektif" melalui Zoom Meeting, Senin (20/7/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, Hikmah Muftiana, S.I.Kom., M.A., serta dosen Program Studi KPI STAIN SAR Kepri, Muhammad Zaini, M.Kom.I., sebagai narasumber.

Webinar tersebut menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memperdalam pemahaman mengenai strategi komunikasi kehumasan, pembentukan citra institusi, serta pentingnya membangun kepercayaan publik di era digital. Kegiatan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi yang antusias mengikuti setiap sesi pemaparan dan diskusi.

Ketua Program Studi MPI STAIN SAR Kepri, Megawati, M.M., dalam sambutannya mengapresiasi inisiatif HMPS MPI dalam menghadirkan forum ilmiah yang relevan dengan perkembangan dunia komunikasi dan pengelolaan lembaga pendidikan.

Menurutnya, webinar tersebut tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa mengenai praktik kehumasan modern, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan kompetensi akademik mahasiswa agar mampu membangun komunikasi yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik.

Pada sesi pertama, Hikmah Muftiana, S.I.Kom., M.A., mengangkat materi mengenai pentingnya membangun kepercayaan (trust) sebagai fondasi utama dalam praktik kehumasan. Ia menegaskan bahwa kepercayaan tidak dibangun melalui klaim atau janji semata, melainkan melalui tindakan nyata dan pengalaman positif yang dirasakan publik.


"Dikenal belum tentu dipercaya. Informasi hanya membuat publik mengenal organisasi, tetapi kepercayaanlah yang membuat mereka memilih, bertahan, dan merekomendasikan organisasi kepada orang lain," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa proses pembentukan reputasi organisasi diawali dari komunikasi yang efektif, kemudian membentuk persepsi, berkembang menjadi citra, melahirkan kepercayaan, hingga akhirnya menghasilkan reputasi yang kuat. Dalam perspektif Excellence Theory yang dikembangkan James E. Grunig dan Todd Hunt, keberhasilan humas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan informasi, tetapi juga melalui komunikasi dua arah yang mampu membangun hubungan saling memahami dengan para pemangku kepentingan.

Hikmah juga memaparkan tiga dimensi utama pembentuk kepercayaan, yakni ability (kompetensi), benevolence (kepedulian), dan integrity (integritas). Ketiga aspek tersebut, menurutnya, harus diwujudkan melalui pelayanan yang berkualitas, sikap empati terhadap kebutuhan publik, serta konsistensi dalam menjaga komitmen organisasi.

Selain itu, ia menguraikan lima pilar komunikasi efektif yang menjadi fondasi kepercayaan publik, yaitu clarity (kejelasan), consistency (konsistensi), credibility (kredibilitas), empathy (empati), dan responsiveness (ketanggapan). Kelima unsur tersebut menjadi prasyarat bagi lembaga untuk membangun hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat.

Sementara itu, Muhammad Zaini, M.Kom.I., memfokuskan materinya pada praktik kehumasan di era digital. Ia menjelaskan bahwa humas modern tidak lagi sekadar menjalankan fungsi publikasi, tetapi berperan sebagai pengelola hubungan strategis yang mampu membentuk persepsi positif melalui komunikasi yang interaktif dan berkelanjutan.


Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip komunikasi yang jelas, konsisten, kredibel, dan melibatkan partisipasi publik. Menurutnya, citra lembaga pada era digital sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang dibangun melalui berbagai platform media.

"Humas harus mampu menghadirkan komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan publik. Storytelling, transparansi, serta respons yang cepat terhadap berbagai isu menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat," ungkapnya.

Muhammad Zaini juga memperkenalkan berbagai strategi kehumasan digital, seperti pemanfaatan storytelling, personalisasi pesan, optimalisasi media sosial, pembuatan konten edukatif yang mudah dibagikan, hingga pemanfaatan umpan balik publik sebagai dasar evaluasi komunikasi organisasi.

Ia turut mengajak mahasiswa untuk membangun personal branding yang positif melalui aktivitas akademik, meningkatkan kemampuan public speaking, menulis, serta aktif berkolaborasi dalam berbagai kegiatan organisasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui webinar ini, HMPS MPI STAIN SAR Kepri berharap mahasiswa semakin memahami bahwa komunikasi merupakan instrumen strategis dalam membangun citra dan reputasi lembaga. Ke depan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menghadirkan komunikasi yang efektif, adaptif, dan berintegritas dalam berbagai ruang profesional maupun pengabdian kepada masyarakat. (LF)