السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bintan, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sebagai bagian dari komitmen meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan komunikasi di era digital, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepulauan Riau menggelar webinar bertajuk "Shaping Perception: Membangun Citra, Menumbuhkan Kepercayaan melalui Komunikasi Efektif" melalui Zoom Meeting, Senin (20/7/2026).
Kegiatan
ini menghadirkan Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN
Datuk Laksemana Bengkalis, Hikmah Muftiana, S.I.Kom., M.A., serta dosen Program
Studi KPI STAIN SAR Kepri, Muhammad Zaini, M.Kom.I., sebagai narasumber.
Webinar
tersebut menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memperdalam pemahaman
mengenai strategi komunikasi kehumasan, pembentukan citra institusi, serta
pentingnya membangun kepercayaan publik di era digital. Kegiatan diikuti oleh
mahasiswa dari berbagai program studi yang antusias mengikuti setiap sesi
pemaparan dan diskusi.
Ketua
Program Studi MPI STAIN SAR Kepri, Megawati, M.M., dalam sambutannya
mengapresiasi inisiatif HMPS MPI dalam menghadirkan forum ilmiah yang relevan
dengan perkembangan dunia komunikasi dan pengelolaan lembaga pendidikan.
Menurutnya,
webinar tersebut tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa mengenai praktik
kehumasan modern, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan kompetensi akademik
mahasiswa agar mampu membangun komunikasi yang profesional, adaptif, dan
berorientasi pada pelayanan publik.
Pada sesi pertama, Hikmah Muftiana, S.I.Kom., M.A., mengangkat materi mengenai pentingnya membangun kepercayaan (trust) sebagai fondasi utama dalam praktik kehumasan. Ia menegaskan bahwa kepercayaan tidak dibangun melalui klaim atau janji semata, melainkan melalui tindakan nyata dan pengalaman positif yang dirasakan publik.
.jpeg)

"Dikenal
belum tentu dipercaya. Informasi hanya membuat publik mengenal organisasi,
tetapi kepercayaanlah yang membuat mereka memilih, bertahan, dan
merekomendasikan organisasi kepada orang lain," jelasnya.
Ia
menjelaskan bahwa proses pembentukan reputasi organisasi diawali dari
komunikasi yang efektif, kemudian membentuk persepsi, berkembang menjadi citra,
melahirkan kepercayaan, hingga akhirnya menghasilkan reputasi yang kuat. Dalam
perspektif Excellence Theory yang dikembangkan James E. Grunig dan Todd
Hunt, keberhasilan humas tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan
informasi, tetapi juga melalui komunikasi dua arah yang mampu membangun
hubungan saling memahami dengan para pemangku kepentingan.
Hikmah
juga memaparkan tiga dimensi utama pembentuk kepercayaan, yakni ability (kompetensi),
benevolence (kepedulian), dan integrity (integritas). Ketiga
aspek tersebut, menurutnya, harus diwujudkan melalui pelayanan yang
berkualitas, sikap empati terhadap kebutuhan publik, serta konsistensi dalam
menjaga komitmen organisasi.
Selain
itu, ia menguraikan lima pilar komunikasi efektif yang menjadi fondasi
kepercayaan publik, yaitu clarity (kejelasan), consistency
(konsistensi), credibility (kredibilitas), empathy (empati), dan responsiveness
(ketanggapan). Kelima unsur tersebut menjadi prasyarat bagi lembaga untuk
membangun hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat.
Sementara itu, Muhammad Zaini, M.Kom.I., memfokuskan materinya pada praktik kehumasan di era digital. Ia menjelaskan bahwa humas modern tidak lagi sekadar menjalankan fungsi publikasi, tetapi berperan sebagai pengelola hubungan strategis yang mampu membentuk persepsi positif melalui komunikasi yang interaktif dan berkelanjutan.

Ia
menekankan pentingnya penerapan prinsip komunikasi yang jelas, konsisten,
kredibel, dan melibatkan partisipasi publik. Menurutnya, citra lembaga pada era
digital sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang dibangun melalui
berbagai platform media.
"Humas
harus mampu menghadirkan komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga
membangun kedekatan emosional dengan publik. Storytelling, transparansi,
serta respons yang cepat terhadap berbagai isu menjadi bagian penting dalam
membangun kepercayaan masyarakat," ungkapnya.
Muhammad
Zaini juga memperkenalkan berbagai strategi kehumasan digital, seperti
pemanfaatan storytelling, personalisasi pesan, optimalisasi media sosial,
pembuatan konten edukatif yang mudah dibagikan, hingga pemanfaatan umpan balik
publik sebagai dasar evaluasi komunikasi organisasi.
Ia
turut mengajak mahasiswa untuk membangun personal branding yang positif melalui
aktivitas akademik, meningkatkan kemampuan public speaking, menulis,
serta aktif berkolaborasi dalam berbagai kegiatan organisasi dan pengabdian
kepada masyarakat.
Melalui
webinar ini, HMPS MPI STAIN SAR Kepri berharap mahasiswa semakin memahami bahwa
komunikasi merupakan instrumen strategis dalam membangun citra dan reputasi
lembaga. Ke depan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak
hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menghadirkan komunikasi
yang efektif, adaptif, dan berintegritas dalam berbagai ruang profesional
maupun pengabdian kepada masyarakat. (LF)
DWP STAIN Kepri Dukung Pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis bagi Mahasiswa Baru pada Pra-PBAK 2026
GenBI STAIN Kepri Selenggarakan Cek Kesehatan Gratis dalam Rangka Pra-PBAK 2026