السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Karimun, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Suasana Kantor Kecamatan Kundur Barat tampak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau duduk berhadapan dengan jajaran pemerintah kecamatan dan Pemerintah Desa Sawang Laut. Pertemuan yang berlangsung pada Selasa, (21/7), tersebut menjadi penanda dimulainya pengabdian mahasiswa di wilayah Kecamatan Kundur Barat selama 40 hari ke depan.
Audiensi itu diterima langsung oleh Camat Kundur Barat, Yusufian, S.Sos., M.M.P., serta dihadiri Kepala Desa Sawang Laut, Jefrizal atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sapaan Tok Janggot. Di hadapan para pemangku kepentingan desa dan kecamatan, mahasiswa memaparkan gagasan-gagasan yang akan mereka jalankan selama masa KKN, mulai dari pendidikan anak, pemberdayaan UMKM, kesehatan masyarakat, hingga pengembangan potensi ekonomi desa.
Berbeda dari sekadar agenda seremonial penyambutan, pertemuan tersebut menjadi ruang dialog awal untuk menyelaraskan program kampus dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa menyadari bahwa keberhasilan KKN tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga sejauh mana program tersebut mampu menjawab persoalan yang dihadapi warga.
Ketua kelompok KKN menjelaskan bahwa seluruh kegiatan yang dirancang berangkat dari tema besar KKN tahun ini, yakni “Penguatan SDM Unggul dan Pemulihan Ekonomi Desa Berbasis Ekoteologi.” Tema tersebut dipilih sebagai upaya mengintegrasikan pengembangan sumber daya manusia, penguatan ekonomi masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam satu kerangka pengabdian yang berkelanjutan.
Salah satu program yang menarik perhatian pemerintah kecamatan adalah Edukasi Ekoteologi dan Festival Kreativitas Anak "Cinta Desa dan Alam". Melalui program ini, mahasiswa akan menyasar anak-anak di Desa Sawang Laut dengan berbagai kegiatan edukatif yang menggabungkan literasi, pembentukan karakter, serta pengenalan nilai-nilai kepedulian lingkungan.
Bagi mahasiswa, membangun kesadaran lingkungan tidak harus dimulai dari ruang-ruang formal. Anak-anak desa dipandang sebagai agen perubahan yang dapat menumbuhkan budaya menjaga alam sejak usia dini. Karena itu, pendekatan yang digunakan dirancang lebih dekat dengan dunia anak, seperti permainan edukatif, aktivitas kreatif, dan kegiatan belajar yang menyenangkan.
Selain sektor pendidikan, perhatian mahasiswa juga tertuju pada pelaku usaha kecil yang menjadi salah satu penggerak ekonomi desa. Melalui program Gema Lestari (Gerakan Pendampingan Legalitas dan Transaksi Digital), mahasiswa akan mendampingi pelaku UMKM dalam mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) serta mengenalkan pemanfaatan transaksi digital berbasis QRIS.
Langkah tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam aktivitas ekonomi, banyak pelaku usaha di tingkat desa yang masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses legalitas usaha maupun sistem pembayaran non-tunai. Pendampingan yang dilakukan mahasiswa diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing sekaligus memperluas akses pasar.
Pada sektor kesehatan, mahasiswa menghadirkan program Gema Sakti (Gerakan Masyarakat Sadar Kesehatan melalui TOGA). Program ini berfokus pada pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga sebagai salah satu upaya membangun kesadaran kesehatan masyarakat berbasis potensi lokal. Selain melakukan penanaman tanaman herbal, mahasiswa juga akan mengedukasi masyarakat mengenai manfaat dan cara pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, melalui program Berkah Bumi, mahasiswa berupaya mendorong peningkatan nilai ekonomi hasil perkebunan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat. Komoditas seperti kelapa, karet, cabai, dan durian akan menjadi fokus pendampingan untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar yang lebih luas.
Camat Kundur Barat, Yusufian, menyambut positif berbagai gagasan yang dipaparkan mahasiswa. Menurut dia, kehadiran mahasiswa KKN dapat menjadi energi baru bagi desa, terutama ketika program yang dijalankan mampu berkolaborasi dengan agenda pembangunan yang telah dirancang pemerintah desa.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada perencanaan yang baik, tetapi juga kemampuan mahasiswa membangun komunikasi dengan masyarakat. Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk aktif berinteraksi dan memahami kebutuhan warga secara langsung.
“KKN adalah kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dari masyarakat sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat. Yang terpenting adalah bagaimana program yang dilaksanakan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” kata Yusufian.
Senada dengan itu, Kepala Desa Sawang Laut, Jefrizal, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan KKN di wilayahnya. Ia berharap keberadaan mahasiswa tidak hanya menjadi pelaksana program, tetapi juga mitra masyarakat dalam mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi desa.
Audiensi tersebut menjadi titik awal kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat. Dalam beberapa pekan ke depan, berbagai program yang telah dipaparkan akan mulai dijalankan di Desa Sawang Laut. Bagi mahasiswa, pengabdian ini bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Lebih dari itu, KKN menjadi ruang belajar untuk memahami realitas sosial sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat yang mereka dampingi. (Gby/SM)
DWP STAIN Kepri Dukung Pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis bagi Mahasiswa Baru pada Pra-PBAK 2026
GenBI STAIN Kepri Selenggarakan Cek Kesehatan Gratis dalam Rangka Pra-PBAK 2026