السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sekjen Kemenag Tekankan Kepemimpinan Berbasis Kepercayaan dan Kinerja Humanis

  • 09 Januari 2026
  • Oleh: Humas STAIN Kepri
  • 110
Berita Utama

Jakarta, Kampus Bersendikan Wahyu Berteraskan Ilmu — Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia, Kamaruddin Amin, menegaskan pentingnya penerapan pola kepemimpinan berbasis kepercayaan, adaptif, humanis, dan berorientasi pada peningkatan kualitas kinerja aparatur dalam menghadapi tantangan birokrasi ke depan.

Penegasan tersebut disampaikan Sekjen Kemenag saat memimpin rapat bersama para Kepala Biro dan Kepala Pusat di lingkungan Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Kamis (8/1/2026), di Jakarta. Rapat tersebut menjadi momentum penguatan nilai-nilai kepemimpinan strategis dalam mendorong kinerja organisasi yang lebih efektif dan dinamis.

Dalam arahannya, Kamaruddin Amin menguraikan sejumlah prinsip kepemimpinan yang ia terapkan untuk membuka cakrawala berpikir serta mendorong peningkatan kinerja institusi. Salah satu prinsip utama yang ditekankan adalah pemberian kepercayaan penuh kepada bawahan.

“Pola kepemimpinan pertama yang saya terapkan adalah percaya penuh kepada bawahan,” ujar Kamaruddin Amin.

Menurutnya, kepercayaan yang diberikan kepada para Kepala Biro dan Kepala Pusat akan menumbuhkan kreativitas, inovasi, serta keberanian untuk berinisiatif dalam menjalankan tugas secara profesional.

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan yang terlalu menekankan kontrol justru berpotensi menghambat dinamika organisasi.

“Jika semua hal harus selalu dikontrol dan menunggu arahan pimpinan, hal itu bisa menjadi kendala. Kepercayaan penting agar organisasi bergerak dinamis. Yang terpenting, saya tetap mendapatkan pembaruan informasi,” tegasnya.

Prinsip kepemimpinan berikutnya yang disoroti adalah membangun cara pandang positif terhadap setiap individu. Kamaruddin Amin menilai bahwa setiap aparatur pada dasarnya memiliki niat baik dalam bekerja.

“Saya selalu berpikir bahwa setiap orang itu baik, hingga ada bukti yang menunjukkan sebaliknya. Positive thinking ini penting agar kita menjadi pribadi yang proporsional dan mudah diterima,” ungkapnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menghilangkan jarak psikologis antara pimpinan dan aparatur. Menurutnya, kepemimpinan yang inklusif dan terbuka akan menciptakan iklim kerja yang sehat dan produktif.

“Saya tidak pernah merasa memiliki gap psikologis dengan siapa pun. Prinsip berpikir positif dalam kepemimpinan sangat penting, meskipun tidak semua orang selalu sependapat,” katanya.

Lebih lanjut, Sekjen Kemenag mengingatkan para pimpinan agar tidak mudah mengeluh atau bersikap defensif dalam menghadapi persoalan. Ia menekankan bahwa pemimpin harus fokus pada solusi dan perbaikan berkelanjutan.

“Sebagai pemimpin, kita tidak boleh sedikit-sedikit mengadu atau mengeluh. Lakukan yang terbaik untuk Kementerian Agama, perbaiki apa yang bisa diperbaiki, lalu laporkan hasilnya,” ujarnya.

Keterbukaan terhadap kritik dan masukan juga menjadi prinsip kepemimpinan yang ditekankan. Kamaruddin Amin menilai bahwa kritik merupakan bagian penting dari proses evaluasi dan perbaikan organisasi.

“Saya menerima kritik dan masukan. Bahkan saya senang jika ada rekan yang memberikan input agar saya bisa melihat persoalan secara lebih luas. Kita tidak boleh mudah terbawa perasaan terhadap masukan yang positif,” tandasnya.

Ia menambahkan bahwa keterbukaan terhadap kritik harus dimaknai sebagai ikhtiar kolektif untuk membangun Kementerian Agama yang lebih baik dan responsif terhadap kebutuhan umat dan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Biro Umum Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Aceng Abdul Aziz, menyampaikan bahwa rapat tersebut dirangkaikan dengan kegiatan tasyakuran sekaligus kick off tahun kerja 2026 di lingkungan Sekretariat Jenderal Kementerian Agama. Momentum ini dimaknai sebagai ajang refleksi atas capaian kinerja tahun sebelumnya sekaligus peneguhan arah dan komitmen kerja ke depan.

Memasuki tahun 2026, Kementerian Agama menegaskan komitmen untuk melakukan percepatan kinerja dan pemberdayaan umat. Fokus diarahkan pada penguatan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efektif, peningkatan kualitas layanan keagamaan yang sederhana dan berdampak, transformasi digital birokrasi, serta penguatan sinergi dengan pesantren dan organisasi keagamaan.

Selain itu, seluruh jajaran Sekretariat Jenderal didorong untuk memperkuat kolaborasi lintas biro dan pusat, menghilangkan sekat antarunit, serta membangun budaya kerja berbasis solusi dan inovasi. Dengan visi dan irama kerja yang selaras, tahun 2026 diharapkan menjadi momentum lompatan kinerja yang menghadirkan manfaat nyata bagi umat dan masyarakat luas.

Sumber: Kementerian Agama RI